Antusiasme Mahasiswa dalam Menulis

Memang, beberapa media massa, baik cetak maupun online menyediakan ruang khusus yang bisa menampung tulisan civitas academica, terutama mahasiswa. Hal itu turut menyedot animo mahasiswa, karena semakin membuka peluang bagi mereka untuk turut mengembangkan karya. Kenyataannya, tak hanya rubrik ”Kampus”, tulisan mahasiswa juga banyak mengisi rubrik lain.
Tingginya animo mahasiswa untuk menulis di media massa dilatarbelakangi beberapa faktor. Pertama, faktor eksternal, yaitu penyebab yang lebih dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan luar. Misalnya, pemberian apresiasi terhadap tulisan yang dimuat, baik oleh media maupun kampus. Diakui memang, pemberian penghargaan dapat memacu semangat menulis mahasiswa.
Meskipun, di sisi lain, ia bisa menjadi unsur ”tujuan”. Artinya, mahasiswa menulis untuk kepentingan pragmatis, atau semata untuk mendapatkan imbalan materi, baik dari media maupun kampus. Inilah yang mesti dihindari, sebab jika motivasi pragmatis dalam menulis seorang lebih kuat, ia bisa menghalalkan segala cara asal tulisannya dimuat. Termasuk, mengambil jalan pintas dengan melakukan plagiarisme.
Sah-sah saja, menulis dengan tujuan memperoleh penghargaan. Asal, ia tidak menjadi tujuan utama, sehingga mengabaikan kode etik dalam menulis. Apresiasi mestinya diniati sekadar sebagai stimulus untuk pembangkit semangat menulis.
Kedua, faktor internal yang lebih dipengaruhi dorongan diri mahasiswa itu sendiri dalam menulis. Yaitu, kemauan atau minat. Inilah yang pertama mesti ditumbuhkan dalam diri mahasiswa jika hendak menulis. Jika menulis dilandasi atas kemauan, maka ia akan menjalaninya dengan nyaman dan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, menulis telah menjadi hobi sehingga ia akan dengan senang hati melakukan aktivitas menulis. Dengan demikian, dimuat atau tidak tulisan itu, ia akan terus menulis dan berkarya.
Alat Perjuangan
Terlepas dari itu, aktivitas menulis memberikan banyak keuntungan
bagi mahasiswa. Pertama, dapat mengasah kemampuan dan inteligensia
seorang. Ya, sebab menulis memerlukan ide. Kebutuhan ide menuntut
seorang melakukan pencarian informasi melalui berbagai referensi,
termasuk buku. Makanya, seorang penulis dituntut pula untuk membaca. Semakin banyak menulis, mestinya semakin banyak pula referensi yang dibaca. Dengan begitu, semakin banyak pula informasi dan wawasan mahasiswa yang diperoleh dari aktivitas tersebut.
Kedua, menulis dapat membangun sikap kritis mahasiswa dalam membaca situsi atau keadaan. Sebab, kebanyakan tulisan, terutama artikel, berisi otokritik terhadap suatu isu yang berkembang di masyarakat. Kritik tersebut bisa menjadi sumbangan pikiran bagi perubahan di masyarakat, atau pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan. Tulisan dengan demikian menjadi alat perjuangan alternatif mahasiswa dalam menggalang opini publik untuk melakukan perubahan di masyarakat, sehingga mahasiswa bisa memainkan peran sebagai agen perubahan sosial lewat media tulisan.
Dengan menulis, mahasiswa menjadi peka terhadap isu. Sebab, ide menulis biasanya berawal dari isu aktual yang berkembang di masyarakat, baik seputar politik, sosial, budaya maupun ekonomi. Mahasiswa menjadi tahu berbagai permasalahan di dalam negeri dan kemudian ikut memberikan solusi lewat tulisan. Tentunya, dengan analisis yang mendalam. Bukan layaknya aksi demonstrasi mahasiswa yang terkadang mereka sendiri tidak mengetahui substansi persoalan atau isu yang diperjuangkan karena minim analisis.
Budaya menulis bagi mahasiswa, terutama di media, bagaimanapun mesti dirawat. Apalagi, menulis memiliki keselarasan dengan aktivitas akademik mahasiswa dan bisa mendukung ideologi perjuangan mahasiswa. (24)
—Irma Muflikhah, pengelola Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat Semarang, mahasiswa Tadris Matematika IAIN Walisongo Semarang.
(/)
Sumber : Suara Merdeka
Comments
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.
Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih