Posts

Showing posts with the label Puisi

Dalam Halunisasi (?)

Image
sangpena.com | Dalam halusinasi, kanjeng mami merasa memiliki negeri ini Dicengkeramnya erat, tak akan dilepas selagi ada petugas yang menjabat Tidak urusan dia jadi apa, atau dipilih siapa, yang jelas dia ditugaskan siapa. Macam-macam, awas! Takabur? atau merasa di atas angin kekuasaan. Melampiaskan syahwatnya yang tertahan sakit hati 10 tahun... Olala, Maafkan kami pak petugas partai, silaunya kekuasaan telah menjadikan kanjeng mami lupa, bahwa engkau dipilih dari rakyat, oleh dan untuk rakyat. Bukankah begitu rumusnya? Semoga (alm) bapak kanjeng mami tidak malu dalam istirahat panjangnya. Karena, dalam nama kanjeng mami, terabadikan nama beliau...

Waktu | Celebrating 21th

Image
Waktu Terkadang lambat merangkak, Terkadang berlari begitu cepat, Tiada kabar ia akan berhenti, Tergagap, ternganga saat ia begitu saja pergi, Laksana jelaga ditinggal api,  Sepi Mati... 12.03 am "Kita tak pernah benar-benar memiliki. Karena setiap helaan nafas terbatas waktu. Kita hanya berhak menjaga dan melindungi. Hingga saat tiba saatnya "pulang" nanti, kita bisa berbahagia diri. Meninggalkan jejak nyata di bumi. Bahwa kita pernah ada. Bahwa kita punya karya! Apalah arti seorang manusia? jika ia hanya meninggalkan nissan bernama, tapi dunia tak mengenalnya. Semoga terus berkarya, semoga senantiasa bahagia.  Dalam diam, kita mengetahuinya di selat-selat jauh dan benua yang teduh, kita akan menemukannya. (2015). Kita akan menang pada akhirnya, kau tahu? (2017)

2015

Image
Tahun baru, Apa bedanya jika itu hanya terucap dari mulut palsu, Resolusi? Resolusi kau bilang?! Aih, Kau tak punya wewenang ilmiah untuk menjadikan kata resolusi itu menjadi omongan palsu! Kau katakan berulang, dan kau tipu janji itu berulang-ulang. Setiap tahun resolusi, tapi setiap tahun pula kau menipu diri. Setiap tahun itu sama! Untuk apa kau berfoya? Berandal! #Terserah, Slipi, 1 Januari 2015

Lelaki Malam

Image
  Lelaki itu berlari Berbekal langit dan rasi bintang terbentang Dia terus berlari Hingga sebuah persimpangan ia terhenti "Kau tak bisa meneruskan perjalanan ini", kataku. Kau menggeleng, lalu terduduk. "Barangkali aku akan berhenti", katamu. "Tapi bukan saat ini!" seraya memandang langit dan mencerna gemintang. Tas bututmu kembali kau rapikan, berdiri menepuk bahuku seraya berkata. "Bukan saat ini, kawan. Perjalanan ini belum selesai". Dan dari kejauhan kembali ku melihatmu berlari, jatuh dan berlari lagi hingga malam menelanmu. Semarang, 14 Oktober 2014

Telaga Warna

Image
Selera wajah yang tak kunjung karam teguh walau redup berlalu kuasai keriput belulang pipi batu-batu kening terkenang dalam almbum merah muda lalu benang hitam yang tergerai terombang-ambing dibelai rindu aku beku gempita mata menyergap hingga dua kutub bersujud padu dalam dada bersemayang di pematang dentum jantung dan nadiku. Pantura, 1 April 2012 | Penulis: Umar Affiq

What Are Word

Image
sangpena.com | Aku membayangkan jika saat itu telah tiba, lalu menjemput salah satu di antara kita. Satu. Atau bahkan keduanya. Terbayang tangis yang meledak dari anak-anak yang memelukmu erat. Seperti apakah aku saat itu? Entahlah, barangkali senyum yang kuperjuangkan sedari hari ini akan menguatkanku. Saat waktu yang pasti hadirnya itu membawaku kembali. Anywhere you are, I am near Anywhere you go, I'll be there Anytime you whisper my name, you'll see Where every single promise I'll keep Cause what kind of guy would I be If I was to leave when you need me most What are words If you really don't mean them When you say them What are words If they're only for good times Then they're done When it's love Yeah, you say them out loud Those words, They never go away They live on, even when we're gone And I know an angel was sent just for me And I know I'm meant to be where I am And I'm gonna be Standing right beside her ton...

Kembalilah Sahabat #

Image
Sahabatku... Dimanakah engkau sekarang Apa yang sedang kau lakukan sekarang Apakah engkau baik-baik saja Sahabat... Bila boleh kubertanya Apakah kau merindukanku Seperti apa yang kurasakan saat ini                                 Sahabat sejatiku...                                 Aku rindu dirimu                                 Aku rindu tawamu                           ...

Mandadak Kemarau

Image
picsource: antarafoto.com Miskin yang mendadak singgah Menghadirkan keserakahan Kian letih Berat kaki untuk melangkah Namun,  Apalagi yang dapat kita lakukan? Jika kemarau mendadak berkepanjangan Dari kenyamanan hujan yang terlalu lama (juga) dirasakan Apa yang mesti (lagi) kita kelu dan keluhkan? Kita sudah kadung memilihnya Kita sudah tak mampu mengubahnya Kemarau segera datang Kita tak mampu menaksir cuaca ke depan Apakah ini jawabannya? Ujian yang mendadak singgah Dalam hidup yang semakin gerah Kita tetap melangkah, Kian letih... Semarang, 29 Agustus 2014 Wonodri, setelah letih perjalanan panjang Blora - Semarang Inspirasi dari Sayyis Fahmi Alathas

Tidak Ada Cinta Yang Sempurna #

Image
  sangpena.com | Bismillaah.. Tidak ada cinta yang sempurna.. Seperti mentari yang tak selamanya memberikan sinar.. Seperti Rembulan yang tak selamanya utuh.. Seperti langit yang tak selamanya memberikan warna biru yang menenangkan.. Seperti burung yang tak selamanya berterbangan… Tapi kau bisa belajar kesetiaan pada mentari, yang selalu setia mentaati titah Tuhannya. Meberikan apa yang ia miliki pada waktu yang ditentukan Tuhan.. Kau juga bisa belajar berbagi, seperti mentari yang merelakan dirinya tenggelam di ufuk barat sana. Memberikan jubah hitam menelannya, agar sang rembulan mampu memberikan sinar terangnya.. Bukankah cinta juga berarti berbagi? Lantas kau bisa belajar kesabaran pada rembulan.. Kalian bahkan mengetahui, bahwa rembulan tak seperti matahari yang selalu memiliki sinar utuh,, Ia haru bersabar, menunggu hingga sang waktu mengantarkannya pada keutuhan. Hingga ketika masanya tiba, ia memberikan sinar yang menentramkan hati ketika kalian melihatnya.. Meski ku t...

UntukMu Rahasia Terbesarku #

Image
Bismillaah.. Pagi kembali hadir bersama mentari.. Semilir angin mulai menyapa, bertanya, bagaimana dengan hatiku kali ini? Tersenyum. Ada desiran lembut hadir seketika. Bukankah ini begitu menarik? Mencintai seseorang yang bahkan namanya saja kau tak tahu. Merindukan seseorang yang bahkan seperti apa dia kau tak tahu. Dia adalah rahasia terbesar, yang Allah tlah tuliskan namanya bersanding denganmu, Rapi, di Lauhul MahfudzNYA.. Yang kelak kehadirannya akan menyempurnakan setengah dari pada diienmu. Aku hanya berusaha menjaga izzah dan iffah. Memantaskan diri dihadapan ALLAH... Bagaimana mungkin aku mengharapkan sosok Muhammad jika aku bukan Siti Khadijah? Bagaimana mungkin aku mengharapkan Ali jika aku tak seperti Fathimah binti Muhammad? Hingga aku harus terus belajar, memantaskan diri. Siapapun dia.. Tak perlu ku sebutkan namamu di hadapanNYA. Cukup ALLAH yang menentukan. Hingga aku menjadi jawaban atas do'a-do'amu. Akan aku nikmati setiap desiran itu. Jika ia sebuah fitra...

Cinta Illahi #

Image
C inta, I nilah rasa yang terlahir dari karunia Illahi N yanyian-nyian cinta menusuk hingga ruang-ruang kehidupan T erlahir dari rasa yang suci A yat-ayat cinta-Nya begitu syahdu tuk didengar I ndah tak terdiksikan oleh goresan pena L embutnya Kau hadirkan cinta di dalam dimensi ruang dan waktu L alainya manusia karena cinta buta, cinta yang semu A ku ingin cinta yang hakiki, yang membahagiakanku di dunia dan akhirat H idupkan cinta-Mu di setiap langit-langit kehidupanku I nilah harapku dalam setiap sujud dan doaku Penulis: Nur Adiba | Follow @ik anur_21

Menatap Mentari #

Image
picsource: www.baliphotographyguide.com sangpena.com | Hari ini Di pagi yang cerah ini Ku terbangun Dari tidur lelapku Ku buka jendela kamarku Yang menampakkan mentari Dan tersenyum Dengan seribu kehangatannya Mentariku Indahnya senyummu Hangatnya sinarmu Terangnya cahanyamu Wahai mentariku Andai boleh aku berharap Ku inginkan sebuah sayap Yang dapat membawaku terbang menghampirimu Tetapi Itu hanyalah sebuah harapan Harapan yang pastinya tak akan terwujud Menatapmu Telah cukup membuatku bahagia Aku berharap dapat terus menatapmu setiap pagi Terimaksih mentariku Terimakasih Ya Allah Penulis: Alifatul Wazni Bilqisty | 8 Agustus 2014

Curahan Hati Untuk Rasulullah SAW #

Image
sangpena.com |  12 Rabiul Awal 1435H Wahai Rasul,,, di hari yang mulia ini. Seluruh umatmu bersholawat kepadamu.. Seluruh umatmu merayakan hari kelahiranmu... Seluruh umatmu menyebut namamu,,, Namun bagaimana dengan umat yang seakan berpura-pura tidak tahu akan harimu Wahai Rasul.. Bagaimana dengan mereka yang tetap sibuk dengan dunia mereka... Ketika banyak umatmu yang lainnya ikut merayakan,,, Namun mereka tetap berkecimpung dalam kesibukan mereka yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Bagaimana dengan mereka Ya Rasul.. Akankah mereka mendapatkan syafa'at darimu Wahai Rasul. Sedangkan bagi kami yang ikut merayakan saja belum tentu bisa melihatmu di akhirat nanti :’( Wahaii Rasul kami,, Sedih hati kami jika kami tidak bisa bertemu denganmu di akhirat nanti,, karena betapa rindunya diri kami kepadamu Wahai Kekasih Illahi :’( Kami malu... kami malu kepada kesetiaanmu.. Sementara kami tidak setia kepada Rasul kami sendiri... Banyak orang yang ketika menghadapi ajaln...

Dia Bernama "Perempuan"

Image
  picsource: khazanah.net sangpena.com | Perempuan, umat manusia menyebutnya demikian. Sungguh aku bertanya, Apa sebenarnya bahan dasar dirimu? Sehingga begitu kuat untuk berdiri kokoh, menopang dan berjuang. Begitu kokoh ketika tulang belakangmu menjadi tempat bermanja anak-anakmu, yang banyak. Begitu kuat saat lengan yang tampak lembut itu, mengangkat beban yang berat. Perempuan, Ataukah jemarimu terbuat dari stainless steel? Bahan yang familiar di jam gadungan, tangan-tangan kami. Jemarimu begitu elastis, lembut di satu sisi, dan sangat cekatan untuk urusan rumah bagi suami dan anakmu. Apa bahan jemarimu? Perempuan, Berapa tera kapasitas RAM di lembut kepalamu itu? Hingga dalam tiap sibuk rapat dan urusan pribadimu, masih tersemat pikiran, menu apa untuk makan siang keluargamu. Perempuan, Adakah sumber energi tak terbatas dalam tubuh mungilmu itu? Sungguh diri ini tak habis pikir, daya tahan seperti apa yang menjadikanmu sekuat itu. Bangunmu paling awal, ...

Shubuh Rindu

Image
Bersahutan katak menyambut Kala fajar, basah wudhu menyejuk tubuh Bersujud dalam rindu Sempurna Ramadhan sepenuh kalbu Terhias retina shubuh matahariku, Ramadhan, seberapa lama usiamu? Semarang, 30 Juni 2014 Fajar

Berbahagialah! Lilin Tanpa Sumbu

Image
Sang Pena - Ada kalanya kesendirian menjadi pertanda bergantinya usia. Dan selalu, kesyukuran adalah hadiah terbaik pengganti masa. Malam telah mengajarkan kita keheningan, hadirkan renungan yang menembus batas rahasia terciptanya waktu. Keheningan menjadikan kristal kenang kemenangan. Mengembalikan "kaki" yang hilang, "tangan" yang terbuang, "mulut" yang sempat terbungkam. Cinta, ya cinta bernama kesyukuran atas nikmatnya itu telah hadir. Menerbangkan angkara murka, memutar manisnya keberhasilan dan indah makna kegagalan. Hening selalu menjadi cermin -- malam -- yang membuat kita melihat kaca hadirnya sebuah akibat dari sebab. Malam ini, sederet doa tanpa api telah menghangatkan jiwaku. Bagaikan kekuatan yang menggetarkan. Menuju kemenangan yang sangat dinantikan, beberapa tahun di depan. Lilin tanpa sumbu telah menyala, selaksa cinta dan do'a akan segera menerangi tapak langkah ini dalam memenangi masa. Bahagialah diri, sungguh, engkau mampu...

Haruskah Kami Berdoa Agar terjadi Tsunami di Jakarta

Image
Sang Pena - Tuan yang terhormat sedianya kami adalah jelata yang mungkin enggan untuk kamu dengar pendapatnya, tapi mengatas namakan demokrasi yang anda gaungkan seyogyanya tolehkan muka dan lihat kami biacara. Otak kami tidak sanggup jika harus berdebat karena bahasa anda tak dapat kami nalar, kalian adalah orang pintar yang menamakn diri kaum elit dalam birokrasi sedangakn kami hanya mengunakan sedikit logika saat perut lapar. Kami bosan dengan carut marut negeri ini dan kami tak bisa menunggu hingga kita bertemu di alam baka dimana tangan dan kaki yang bicara. Tolong ingat ketika kami berbondong-bondong menuju sebuah tempat suara dengan membawa harapan, harapan yang datang saat kami mendapat janji manis sebuah masa depan bangsa. Betapa ikhlas 10 ribu kami relakan hanya untuk mendatangi sebuah pesta yang kau hasutkan dengan nama pesta rakyat, pesta demokrasi, 10 ribu yang sangat berharga yang kami dapatkan dari pekerjaan untuk terus bertahan hidup. Sekarang untuk sekedar duduk dala...

Prosa Pagi

Image
Semua orang perlu kekalahan, tetapi kekalahan bukan tempat tinggak yang baik - katamu tempo hari. Berkali terdengar lirih suara, dalam doa yang terendap keluar dari bilik bambu berjamur. Kau merahasiakan hati mulia, dalam hiruk pikuk kepongahan dunia. Sementara bait demi bait tulisan ini tersusun, terselip namamu di antaranya. Seperti teman lama yang merindukan masa muda, senja yang keemasan di masa muda. Kalah, kita pernah kalah. Namun caramu membesarkan hati selalu mengagumkan, memposisikan kekalahan sebagai kawan. Katamu, "Kekalahan selalu menyisakan cendawan, yang pada masanya ia akan berbuah kemenangan" seraya tersenyum setelah beberapa biji peluru menembus dadamu, basah berdarah-darah. Semarang, 24 Mei 2014

Perak Langit Malam

Image
Sang Pena - Mungkin masih ada bias cahaya senja Malam ini langit masih cukup terang Tak seperti biasa, namun selalu, tetap mengagumkan. Keperakan langit malamku Sepuhan senja dan bulan purnama Menjemput gemintang dalam pekat malam Malam abu-abu hari ini Pergilah kabut, terlalu cepat hadirmu malam ini Angin, bawa ia menjauh Aku ingin melihatnya Dia, langit terindah yang disepuh emas senja Yang diamnya menyimpan sejuta cerita Semarang, 23 Mei 2014

Pasir Waktu dan Air Mata

Image
Pasir Waktu Sang Pena - Terkadang waktu menjelma menjadi debu, menyaru menjadi pasir dan butir kerikil dalam genggaman yang rapuh. Menghilangkan momen dan menggugurkan beberapa kesempatan -- dan kebanyakan kita tidak pernah mampu merebutnya kembali. Sering tersimpan rahasia dalam tiap kepalan, tertahan -- menjadi semacam tinju yang selalu urung kita lontarkan pada sejuta wajah bertopeng kemunafikan -- kesombongan. Maka, rentang bentangkan saja tanganmu itu. Sungguh ini bukan tentang menyerah, apalagi pasrah: sambutlah angin dan gemintang malam ini, bulan separuh yang semerah saga di sudut langit -- peluk-peluklah ia dan biarkan ia luruhkan keraguanmu. Simpan saja perih itu, dengan mata terpejam dan bersabarlah, barangkali kau memang ditakdirkan langit untuk menjadi seseorang yang setiap hari harus mengeringkan air mata itu, sendiri. Semarang, 20 Mei 2014 | 12:40 am