Posts

Showing posts with the label #Fiksimini

Jenaka, Bos #Mikir

Image
sangpena.com | Seorang bos di sebuah perusahaan besar tiba-tiba melakukan inspeksi mendadak ke pabriknya untuk melihat kinerja para karyawannya. Di pabrik keempat, ia menemukan seorang pria muda yang tengah bersandar di dekat pintu, nampaknya ia tengah bersantai. Semua pekerja yang ada diruangan itu tengah sibuk bekerja, kecuali dirinya. Si bos segera menghampir pemuda tersebut dan bertanya, "Berapa gajimu seminggu?" Dengan sedikit terkejut, pemuda itu melihat ke arah si bos dan berkata, "Hmmmm sekitar 100.000 per minggu, kenapa memangnya?" Si bos mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar uang 100 ribu-an. Ia mengulurkannya pada si pemuda, "Ini gajimu untuk dua minggu dan cepat pergi dari sana. Aku tak mau melihatmu lagi!" Dengan keterkejutan luar biasa dan juga takut, si pemuda segera meninggalkan tempat tersebut tanpa banyak bicara. Lalu dengan muka berwibawa si bos melihat para stafnya yang sedari tadi memperhatikan adegan itu....

Puisi #HariTani

Image
Sang Pena - maafkan kami bapak kami bercita-cita jadi kuli atau pegawai negeri kami telah lama malu bercita-cita jadi petani berkubang lumpur dan panas yang membilur membuat kulit hitam dan kaki tangan kapalan musim ke musim berkarib panas hujan tak tentu panenan baik atau buruk seolah nasib mengundi dan mengutuk membuat jeri kami dan alangkah indah televisi duduk dan hidup seperti mimpi sungguh nikmat jadi kuli bapak tak perlu susah seharian membajak sungguh nikmat jadi pegawai negeri bapak tak perlu menetaki hidup dengan kapak tak perlu tak perlu! maafkan kami bapak bahkan sekolah tinggi-tinggi dan gelar berderet-deret sepanjang kali seperti ini jugalah akhirnya kami mati sendiri-sendiri dalam sepi dalam deretan pangkat kuli dan dinginnya pegawai negeri... ‪#‎ selamatharitani‬ * ditulis oleh Yos Yuswinardi | Penulis

Puisi Hujan (Untuk Bapak)

Image
Sang Pena Hujan, Titik demi titik, Pelan tapi pasti, Menyapu bumi, Basahkan gerah bumi, Dinginkan panas hati, Seperti sosok yang dirindukan, Seperti lagu kemenangan yang akan dinyanyikan, Sekalipun hanya sebatas rintik, Cukuplah dinginnya membuat bulu bergidik, Namun, bukan dingin, Bukan dingin yang menjasi sensasi, Tapi kenangan, Betapa jutaan orang telah terinspirasi, Berkat hujan, Seperti malam ini, Senyumku mengembang, Hatiku mengharu, Mengenang bau hujan, Dalam indahnya masa lalu, Dalam dingin, Di pelukan bapak, bapakku nomer satu, Tegalkangkung, 9:53 pm

Maut...

Image
Maut... Apakah itu sebuah pisau ghaib, Yang terselip di antara nafas yang terhembus... Ataukah tangan-tangan ghaib, Yang mencekik  Ataukah sebuah kepakan, Yang ketika sayap kiri direntangkan Terbayang neraka Dan surga direntang kanan Ketika ia diperlihatkan Entahlah,  Ketika semua ini meniti ujung Maka mautlah yang menjemput,  Ada yang berakhir dalam senyum bahagia Dalam indahnya iman dan khusnul khatimah Atau berakhir dalam duka lara Tangis awal sebuah penyiksaan tak bertepi Dalam syukur renungan ini tertulis, Semoga kami, Hambamu yang dhaif, Terlahir dari surgaMu Dikembalikan ke surgaMu, Aamiin,,, #MeretasBatas di ujung lantai 4,  Semarang 8 April 2013

Surat Untuk Anak - Anakku

Image
Sepucuk Surat dari Ibu dan Ayah,,, Anakku, Ketika aku semakin tua, Aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku Suatu ketika aku memecahkan piring, Atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang Aku berharap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif... Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak. Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, Aku berharap, kamu tidak memanggilku "Tuli!" Mohon ulangi apa yang kamu katakan, Atau menuliskannya. Maaf, anakku... Aku semakin tua Ketika lututku mulai lemah, Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun Seperti bagaimana aku selalu membantu kamu Saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan... Aku mohon, jangan bosan denganku. Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan, Seperti kaset rusak ... Aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu ingat ...

Hujan #FiksiMan

Image
Titik-titik kecil itu jatuh Secepat anak panah ia menghujam ke bumi Melukai segenap kekeringan untuk menjauh Buang sauh dan meninggalkan shubuh Titik kecil itu menguap Menghangat bersama sang surya Menjadi titik kecil Embun Titik kecil itu titipan tuhan Namanya hujan Hujan.... #Semarang, Shubuh, 8 Desember 2012. Alexa: 6,505,135

Puisi: Penonton #FiksiMan

Image
Sang Pena - Puisi lama ini, entah berapa kurang tahu. Apa pula pentingnya buat kamu, baca sadja, jangan banyak tanya! :D  Penonton Seperti pagi ini, Aku menjumpaimu, di pokok-pokok bambu Di ujung dipan berkarat  Di antara perban luka rakyat sekarat Di tengah pedagang kaki lima Di samping anak kecil, Yang bising teriaknya Menjajakan segelas air, menukar dengan masa depan suram Demi sesuap nasi Seperti dan selalu seperti ini  Engkau tak beranjak Tak pernah beranjak  Diam dan menunggu Apa yang kau tunggu? Bukankah namamu begitu terkenal Bukankah namamu selalu disebut Ketika mereka berkoar busuk Baiklah Namamu “Keadilan” Keadilan untuk sebuah bangsa besar Yang hanya menjadi penonton  #Di tulis ulang di Rektorat, malam ini 21:48, 3 Desember 2012. Alexa: 6.561.611

Untukmu Palestina

Image
Sang Pena - Untukmu Palestina Di sudut negara ini kami berdiri Hanya diam melihat kalian tumbang Di sudut negara ini kami bersujud Hanya mampu berdoa kala kalian memilih perang Pemimpin kami diam Membelapun tak berkenan Kami tak demikian Kami bergerak Kami menjerit bersama desing peluru Menangis di antara reruntuhan gedungmu Tak berhenti beranjak Semeterpun untuk meninggalkanmu Sejarah kami Terukir namamu, Palestina Jika kami tak ada untukmu Kemana arti "saudara"? Jika kami tak menangis untukmu Dimana makna muslim hakiki? Palestina, jika kami tak bersatu Maka AKU akan menangis untukmu Berdoa dengan selaksa harapan kepada Tuhan Semoga kelak engkau di bebaskan Merdeka atas Yahudi Laknatullah Semoga #Ditulis di Semarang, dibaca dimanapun kalian berada *Berharap malaikat membaca, mencatat, dan mengamini harapan ini...

Namaku Bintang

Image
Sang Pena - Namaku bintang, memang aku bukanlah siapapun di antara banyaknya ciptaan tuhan di dunia ini, aku hanya sebongkah batu yang mendapat sedikit cahaya dari sang surya. Meskipun begitu aku selalu bersyukur. Ternyata masih ada beberapa anak manusia yang memperhatkanku. Ternyata masih ada yang mengharap adanya malam dengan sinarku. Sekali lagi aku bukan siapapun, aku hanyalah batu. Siapa yang peduli dengan batu,??? Sampai kapankah aku menjadi bintang, yang tak pernah sedikitpun diperhatikan. Kemana perginya keadilan?? Adakah orang yang masih menyayangiku, mendengdangkan namaku dalam tiap lagunya? mengingat diriku dalam tiap doanya. Dan diantara itu semua, aku berdoa kepada maut. Bukan memintanya untuk segera membawaku, tapi memohon kepadanya agar dia datang dengan membawa kehangatan. Dengan selaksa kebahagiaan ketika mengambil ruhku, kawan.... meskipun aku hanya sebuah bintang, tapi aku ingin dihargai layaknya manusia yang memiliki hati. Akulah bintang, yang meredup,...

Serpihan Kaca

Image
Sang Pena - Ketika banyak sekali kulihat para remaja dan pemuda seusiaku menghabiskan hidupnya dengan berfoya-foya, aku sedih... bukan karena aku tidak dapat mengikuti, tapi karena betapa sia-sianya apa yang mereka lakukan selama ini. Apa yang mereka fikirkan?! Tidakkah mereka mempunyai pola fikir sepertiku, bahwa hidup ini bukan hanya untuk mencari kepuasan diri. Hmmm, mungkin mereka tak mengenal masa depan. Mungkin mereka tak mengenal mimpi. Bahkan mungkin mereka tak pernah tau apa arti hidup itu yang sebenarnya. Yang mungkin ada di fikiran mereka adalah uang. Kesenangan fana. Mereka tak mengenal mati, berharap tak akan mati, berharap kekal selamanya. Terkadang aku menertawakan diriku sendiri yang selalu menyimpang dari kebanyakan orang. Ketika banyak orang berduyun-duyun ke "utara" maka aku pasti akan mengambil ke "selatan". Aku tak ingin menjadi umumnya orang kebanyakan. Yang selalu mengikuti arus tanpa paham akan di bawa ke mana arus tersebut ...

Pelantikan #FiksiMini

Image
Sang Pena - Pelantikan, malam ini semua serba megah. Kursi yang rontok, patah. Meja yang bubrah. Wajah yang memerah karena marah, entah karena kurang suka atau karena apa. Entahlah. Pelantikan ini seremonial, kadang omong kosong, kadang hanya formalitas. Hanya berkas. Seberkas. Tidak ada yang waras. #catatan malam ini (dalam kondisi) setengah "waras" bagi orang kebanyakan. [Sangpena] dalam keadaan penuh kesyukuran.

Semangat [#FiksiMini]

Image
Sang Pena - Semangat itu semacam sengat, kadang hangat kadang sesat. Kadan sehat kadang sekarat. Entahlah. Jika engkau sedang tidak bersemangat, bisa jadi bukan karena kau tidak sehat. Tapi karena kewarasanmu sedang melayang di akhirat. Jika engkau (sekiranya) bersemangat, belum tentu pula engkau termasuk orang yang sehat. Sehat dan semangat itu sejalan, beriringan, tetapi tak jarang bermusuhan. Ada yang sehat tapi tak semangat, ada yang semangat tapi hidupnya sakit-sakitan, sekarat, jauh dari sehat. Lalu, harus memilih mana? lebih memilih hidup yang dipenuhi semangat, atau hidup yang penuh dengan nikmat dan sehat. Terserah, tulisan ini hanya numpang lewat, semoga sehat, semoga semangat! [Sangpena] #FiksiMini

#FiksiMini Puisi (2)

Image
Sang Pena - Selalu menarik untuk membaca tulisan ini :) "Tak ada yang abadi didunia ini kecuali Keabadian itu sendiri. Tak ada yang benar-benar kita miliki kecuali ketiadaan. Bahkan cinta yang kamu agung-agungkan dalam hidupmu itu tak lebih dari sehembusan angin. Lewat begitu saja, menyesak di dada kemudian lepas. Bebas. Sungguh rapuh, dan luka akan kehilangan tak akan pernah sembuh biarpun sampai hatimu melepuh. Sampai hidupmu luruh." Bisikmu pelan menghembusi luka-luka yang kadung menganga itu. Kelabu. Malam pun menggelinding di matamu. "Jadi kita seperti ini saja. Saling mencintai tapi tidak saling memiliki. Agar saatnya tiba pergi, kita tak perlu sakithati apalagi bunuhdiri. Cukuplah kita berbagi dan saling memahami bahwa cinta tak akan benar-benar menyatukan pribadi kecuali ia sebentuk penghormatan atas keberadaan diri dan rasa peduli ketika kita saling dirundung sepi." Katamu lagi sambil menjilati luka ini yang hampir kebas dan mati. Ya, mati dalam secangkir k...

#FiksiMini Puisi (1)

Image
Sang Pena - Terima kasih untuk kang Yos :D untuk segala puisinya yang luar biasa menggigit dan menggairahkan usia renta :) Selamat membaca, dan silahkan protes sama penulis aslinya :D Tak ada yang lebih buruk dari kata-kata penyair. Dalam tiap puisi ia lupa kemana segala mula mesti berakhir. Dalam tiap tanda ia lupa kemana waktu mesti diarsir. Pun dengan dzikir ia pura-pura berdesir seperti coba merangkup air dengan pasir. Aih, segalanya coba dibuat cair dengan meramu kata-kata yang entah cinta atau dusta. Bahkan kadang-kadang ia coba mengkhianati dunia dengan igauannya yang sengau dan risau. Dunia yang seringkali dibikin dengan tergesa-gesa dan membikinnya gila. Tak adakah yang lebih sederhana dari kata-kata penyair? Tak adakah yang lebih mulia dari sekedar kata-kata penuh sindir? Mungkin lebih baik ia menghabiskan bir bercangkir-cangkir daripada membikin perawan kehilangan pikir. Ya, lebih baik ia minum kopi secangkir dan mengkhawatirkan hidupnya yang serapuh kulit bergela...