Surat Cinta Untuk Anakku

Alkemia Malaky Pahdepie, apa kabarmu hari ini?
Ketika aku menuliskan surat ini untukmu, sekitar 12 tahun yang lalu dari tahun yang tercetak di kalender mejamu, ibumu sedang ikut terlelap setelah beberapa saat yang lalu menyusui dan menidurkanmu. Ketika itu, usiamu baru tiga minggu. Mungkin ini terdengar lucu. Tapi, demikianlah, aku menuliskan surat ini untuk kamu baca di masa depan.
Bagaimana sekolahmu? Jika kamu tak suka matematika, tenang saja, jangan terlalu mencemaskannya.
Ketika kelak kamu membaca surat ini, mungkin itu hari ulang tahunmu. Maafkan jika aku pulang terlambat, mudah-mudahan ketika itu aku sudah menyiapkan sebuah kado untukmu. Apa yang akan kamu sukai 12 tahun dari hari ini? Aku belum bisa membayangkannya
Apa kabar ibumu? Mudah-mudahan dia baik-baik saja ketika kamu membaca surat ini. Peluk dan cium dia, katakan bahwa aku sangat mencintainya. 12 tahun dari sekarang, aku bisa mengerti jika kulit wajahnya tak kencang lagi, atau jika berat badannya naik 10-20 kg, atau jika dia mencemaskan 'stretch marks' di bagian-bagian tertentu dari tubuhnya… Tolong katakana padanya: Tenang saja, aku akan tetap mencintainya. Apapun yang terjadi, dia akan selalu menjadi perempuan terbaik dalam hidupku. Aku ingin kamu menyampaikan rasa terima kasihku kepadanya, untuk semua hal terbaik yang telah dia berikan padaku, yang tak bisa kuhitung jumlahnya (seperti sudah kukatakan padamu sebelumnya soal rumus matematika, tak pernah kutemukan satupun logika matematika yang bisa menghitung kebaikan ibumu untuk hidupku… hidup kita). Sampaikan juga permintaan maafku, untuk hal-hal buruk yang bisa kuceritakan maupun yang tak bisa kuceritakan kepadanya.
Tentu saja aku juga penasaran dengan kakakmu, Kalky. Usianya empat tahun ketika aku menuliskan surat ini. Dia begitu cemburu ketika tahu ibumu mengandungmu. Dia bilang, dia tak mau punya adik! Aku bisa mengerti perasaannya waktu itu, dia tak ingin cintaku dan ibumu kepadanya terbagi karena kehadiranmu. Tetapi kelak dia akan menjadi kakak yang baik untukmu, yang menjaga dan melindungimu; Mungkin seseorang yang terbaik yang akan kamu miliki dalam hidupmu.
Sedang apa dia sekarang—saat kamu membaca surat ini? Jika dia ada di dekatmu, tersenyumlah padanya. Terlalu banyak dari dirinya yang seperti diriku. Terutama karena dia keras kepala dan banyak bicara. Tetapi dia sangat penyayang, seperti ibumu. Maka sayangilah dia seperti kamu menyayangi kami berdua, atau seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Suatu hari kalian mungkin akan bertengkar atau berbeda pendapat, seperti kakak dan adik di manapun di seluruh dunia… Jika saat itu tiba, ingatlah bahwa selalu ada saatnya kamu perlu meminta maaf terlebih dahulu, meski kamu pikir bukan kamu yang salah. Tidak apa-apa, kan? Setiap kamu meminta maaf atau memaafkan seseorang, kamu akan menjadi pemenang, kamu akan selalu mendapatkan sesuatu yang berharga dari dalam dirimu sendiri.
Kemi… Kelak, kamu akan tumbuh dewasa dan kadang-kadang hidup tak seperti yang kamu inginkan. Jika hari-harimu buruk, jangan hilang harapan. Jangan hilang kesabaran. Sebab tak ada batas untuk keduanya. Kadang-kadang, yang perlu kamu lakukan adalah memberi waktu pada kenyataan, agar ia bisa bekerja dengan hukum dan hakikatnya sendiri: Selalu ada matahari selepas hujan, selalu ada pelangi seusai badai. Dan di tengah-tengah segunung persoalan, selalu ada emas yang bisa kamu gali. Jadi, tetaplah terjaga. Tetaplah kuat. Dalam hidup, keteraturan dan ketakberaturan sama sekali tak bertentangan: Keduanya menciptakan keseimbangan dan keindahan-keind
Anakku, tumbuhlah dengan cinta dan kebebasan. Tetapi cinta bukan tentang “bebas untuk” melainkan “bebas dari”. Bukan bebas untuk menjadi (si)apapun, tetapi bebas dari tekanan dan rasa cemas untuk menjadi (si)apapun. Bukan bebas untuk menindas dan melemahkan, tetapi bebas dari penindasan dan kelemahan. Bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi bebas dari kegagalan untuk bertanggung jawab pada batas-batas yang ditetapkan Tuhan atas dirimu. Bukan bebas untuk melampiaskan nafsu dan memenuhi kepentingan-kep
Kelak jangan bercita-cita membelikan rumah untuk istrimu, bercita-citalah
Anakku, aku akan segera mengakhiri surat ini. Aku memejamkan mataku beberapa saat, membayangkan seperti apa kamu nanti. Mungkin kamu sedang tersenyum ketika membaca suratku ini. Senyummu, matamu, rambutmu yang kecokelatan, yang kamu warisi dari ibumu, dan dia mewarisinya dari ibunya… Caramu memerhatikanku atau caramu mengacuhkanku saat aku bercerita, akan selalu mengingatkanku pada ibumu. Caramu tertawa pada lelucon-lelucon
Anakku, demi 23 kromosom yang kamu warisi dariku dan 23 kromosom lainnya yang kamu warisi dari ibumu, kamu telah mewarisi DNA cinta kami berdua. Maka aku berjanji akan mencintaimu apa adanya. Aku akan mencintaimu dengan segala apapun yang kumiliki dalam hidupku. Mudah-mudahan kamu juga bisa menerimaku apa adanya, mencintaiku dengan segenap kasih sayang yang kamu miliki dalam hidupmu… Sebab dengan perasaan semacam itulah keluarga kita dibangun. Aku, ibumu dan kakakmu sudah memulainya lebih dulu, membangun sebuah rumah yang di sana kita bisa tinggal bersama-sama dengan penuh cinta dan kebahagiaan.
Tetaplah mengagumkan!
Melbourne, 8 Desember 2014
FAHD PAHDEPIE
Comments
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.
Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih