DPR, dan Ironi Akal Sehat
![]() |
Ironi DPR |
Memang, secara hukum keputusan untuk menentukan anggaran dalam jumlah berapapun tidak bisa disalahkan begitu saja secara sepihak. Pertanyaanya, apakah pantas ketika wakil rakyat bergelimang kemewahan, sedangkan di seberang jalan masih banyak gelandangan, masih banyak busung lapar yang meregang nyawa dan masih banyak rakyat ber-KTP Indonesia yang gelap masa depannya. Kemana tanggung jawab pemerintah? Apakah hanya sibuk memperkaya diri dengan uang dari kami?
Anggaran renovasi ruangan Badan Anggaran yang mencapai Rp20 Miliar telah diketahui bersama, baik oleh BURT (Badan Urusan Rumah Tangga) maupun oleh publik. Pertanyaannya, apa manfaat yang diterima oleh rakyat atas pembangunan gedung tersebut? Adakah hasil yang signifikan atas pembangunan tersebut terhadap tingkat kesejahteraan rakyat? Bukankah lebih mulia jika anggaran tersebut dikembalikan ke daerah-daerah untuk merenovasi sekolah “laskar pelangi” yang banyak ditemukan di setiap meter persegi tanah Indonesia. Kemana akal sehat? Terdistorsi kemewahan dan jabatan.
Ironi, dari angka sebesar itu ternyata masih ada DPR yang mengaku tidak tahu-menahu soal anggaran tersebut. Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang anggota DPR yang terlibat langsung di dalam sebuah birokrasi tidak mengetahui kebijakan birokrasi tersebut. Kiranya, mungkin semakin nyaman kursi DPR (yang notabene impor) menjadikan DPR semaki terlena dan terbuai kenyamanan, cenderung acuh tak acuh, asal gaji beres, tunjangan beres, mereka terima saja keputusan pimpinan mentah-mentah tanpa memperhitungkan akal sehat dan rasionalitas serta dampaknya terhadap rakyat.
Seandainya angka sebesar Rp 20 Miliar didistribusikan merata ke sekolah “Laskar Pelangi” di seluruh Indonesia dengan perhitungan anggaran perbaikan tiap sekolah sebesar Rp 50 Juta, maka akan ada 400 buah sekolah yang terselamatkan. Tentu manfaat yang diperoleh lebih besar dan langsung diterima masyarakat daripada pembangunan gedung DPR yang tidak pernah dinikmati rakyat. Jangankan menikmati, masukpun tidak mungkin bagi rakyat “biasa”. DPR mungkin lupa, bahwa build education, build nation, membangun pendidikan adalah membangun bangsa.
Ada sebuah peribahasa “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak” mungkin inilah kenyataan pahit yang harus diterima rakyat Indonesia, bahwa pimpinan yang sepenuh hati kita pilih, hanya bekerja setengah hati dan setengah-setengah untuk mensejahterakan rakyat. Akal sehat pergi, diganti ketamakan dan keserakahan memperkaya diri. Hanya berdo’a semoga Allah tidak melimpahkan azab-nya kepada pemimpin berikut rakyatnya di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.
Comments
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.
Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih