Cerpen - Cinta Kampus Roket

blogger templates
kampus biru unimus
Sang Pena - CerpenHari ini kuliah pertamaku. Di kampus biru, begitu orang-orang menyebutnya. Meskipun aku lebih sering menyebutnya kampus roket. Ya, kampus roket. Lebih tepat karena rektorat kami yang bentuknya unik dan ganjil. Menyerupai salah satu bentuk roket yang menjadi rekan pesawat ulang-alik NASA. Tahu NASA, kan? Ah kamu, NASA aja nggak tahu dasar ndeso!
Terkadang aku juga menduga, designer yang membuat maket rektorat kami ini tergila-gila pada serial film Star War, itu lho perang bintang. Hingga bentuknya yang menyerupai roket ini bertahan dari tahun ke tahun, dari jaman batu ke jaman purba, dan dari bukit ke bukit. Meskipun Rektor sudah berganti beberapa kali, bangunan ini tetap kokoh merdeka. Hebat, hebat sekali yang membuat bangunan ini.
Beberapa temanku ada yang mengatakan, konon beberapa kali gambar rektorat ini masuk di salah satu serial komedi statisun televisi swasta tanah air. Subhanallah, sesuatu banget. Benar atau tidaknya, mari kita tanya sama yang punya stasiun televisi. Pelajaran pertama yang bisa diambil adalah: jadilah designer bangunan!
Salah satu ustadzku dulu pernah mengatakan “Hidup itu harus punya plan A, plan B, dan plan C!” Hari ini juga ku ikhtiarkan. Rencana A: jadi direktur Bank. Rencana B: Jadi kasir Bank, dan rencana C: Jadi designer bangunan! Sungguh elegan. Elegan sekali cita-cita hidupku.
Oh ya, Kawan aku lupa memperkenalkan diri. Namaku, Azza. Azza Nur Syamsiar. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara.  Ke dua kakakku sudah berkeluarga. Masing-masing sudah tinggal bersama anak dan istri mereka. Kakakku yang pertama menyunting seorang gadis Betawi dan tinggal di sana. Kakakku yang ke dua, mendapatkan belahan hatinya di Malang. Kini sedang sibuk mengurusi perkebunan dan menanti kehadiran buah hatinya yang pertama.
 Kalau aku sendiri masih studi, seperti yang kalian ketahui. Di kampus biru, kampus roket, dan kampus apapun kalian ingin menyebutnya. Namun, dengan julukan apapun kalian menyebutnya kampus ini tetaplah kampus yang harus dibanggakan. Karena apa? Karena kita punya roket! Dan siap perang jika sewaktu-waktu ada invasi serangan sekutu!
Oh, bukan ini maksudku, Kawan.
Karena di kampus ini kita belajar, di kampus ini kita berkembang. Dan kalau bukan kita yang membanggakan almamater, siapa lagi?
Pengen lebih bagus? Yang lebih mahal, banyak. Begitu kata Iklan.
***
Seminggu yang lalu, kami menjalani apa yang disebut oleh sebagian orang perpeloncoan. Dan hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, kami masuk kuliah.
Di kelas ini hanya ada beberapa orang. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Sesuai yang ku ingat waktu perkenalan Orasi Fakultas minggu lalu. Seharusnya ada lima laki-laki, dan sepuluh orang perempuan, tapi hari ini hanya beberapa saja yang hadir. 
Paling kanan, ada Joko. Lengkapnya Joko Legowo. Asli Banyumas. Meskipun kelihatan paling berwajah tua di antara kami. Dia adalah salah satu yang paling bersemangat kalau diajak bicara mengenai politik. Beberapa hari yang lalu dia mengutarakan keinginan kuatnya untuk jadi politikus. Sambil bercanda aku mengatakan kalau dia lebih cocok jadi tukang lawak. Dia cemberut dan senewen tidak mau bicara. Aku mengalah, ku traktir dia ke kantin, meskipun akhirnya dia sendiri yang bayar. Alhamdulillah.
Di samping Joko, ada Aji. Lindu Aji Anggoro. Orangnya tidak banyak bicara. Mungkin karena dia asli dari Solo. Sekalipun banyak diam. Dia yang paling banyak dibicarakan. Maklum, selain wajahnya yang menarik hati perempuan. Dia juga jago silat, konon waktu SMA dia juara tingkat Provinsi dan masuk final tingkat nasional.
Berikutnya ada Gani. Gani Firdaus. Dia asli dari Ngawi, dan yang paling kemproh di antara kami. Baru juga hari pertama Orasi Fakultas. Dia telah menunjukkan aksinya yang aduhai; tidur di kelas, ngiler, dan mengigau menyanyikan lagu salah satu GirlBand tanah air yang sedang populer.
Meskipun kemproh, dia kelak menjadi paling cerdas diantara kami. Terutama pada pelajaran yang berhubungan dengan Matematika. Hipotesa ini kudasarkan pada kenyataan bahwa dia juga sering mengigau menghitung angka satu sampai 100. Tak jarang dia mengigaukan rumus phytagoras, atau rumus luas balok, rumus volume lingkaran dan lain-lain.
Mahasiswa multi-talent; tidur, ngiler, menyanyi, dan rumus matematika sekaligus. Hebat!
Untuk mahasiswi sendiri, aku kurang begitu memperhatikan. Di kelas kami ada sekitar tujuh dari sepuluh mahasiswi yang terdaftar. Semuanya cantik, begitu jujur aku menilainya. Namun, aku tak pernah terang-terangan mengatakan hal ini di depan mereka. Kenapa? Karena aku tidak masuk dalam daftar lelaki ganteng di hati mereka, kecuali satu; Aji.
Namun, namanya juga perempuan. Sekalipun mereka pintar-pintar di otak. Mereka tak pernah lepas dari kebiasaan yang satu ini: ngerumpi. Seolah ngerumpi telah menjadi sebuah sistem yang terintegrasi dengan apa saja yang mereka kerjakan. Di kantin; makan sambil ngerumpi. Di lab komputer; mengetik sambil ngerumpi. Bahkan, di kamar mandi; masih sempat ngerumpi. Inilah kehebatan sistem ngerumpi perempuan yang pertama kali ku sadari di bangku kuliah.
Ya Allah, semoga istriku kelak bukan ahli ngerumpi seperti mereka. Inilah sebaris do’a yang meluncur tanpa ku sadari saat melihat kenyataan ini. Pahit, pahit sekali. Hari pertama kuliah ku tutup dengan do’a yang mengerikan. Astaghfirullah.
***
Hari ini aku berangkat lebih pagi, bukan karena ada tugas yang belum ku kerjakan. Tapi karena aku memang ingin menjadi yang terdepan, sekalipun hanya absennya saja.
Sambil bersiul-siul aku melihat sekitar kampus yang masih sepi. Belum ada siapa-siapa rupanya. Aku duduk sebentar dan menikmati pemandangan kampus yang masih sepi ini. Sangat langka bisa melihat suasana yang lengang seperti ini, hanya sesekali terdengar suara petugas cleaning service yang bahu-membahu membersihkan kampus biru ini. Terima kasih, ucapku dalam hati kepada mereka.
Aku beranjak. Menaiki tangga, masih sambil bersiul-siul.
Saat memasuki pintu kelas aku terjajar dan kaget. Ada sesosok perempuan duduk di sana. Berjilbab putih besar. Menunduk dan sedang membaca sebuah buku. Jujur, dari dulu aku takut segala sesuatu yang horor dan seram-seram.
Siapa dia? Aku belum mengenalnya kemarin. Batinku. Semoga bukan hantu.
“Assalamu’alaikum” Aku menyapa dan berjalan memasuki kelas
“Wa’alaikumsalam, Mas” jawabnya sambil mengangkat muka. Hatiku bergetar melihat wajah itu. Wajah yang bersih, putih dan nyata sekali bahwa dia rajin sekali membasuh wajahnya dengan air wudhu.
Subhanallah, siapa perempuan ini. Aku lalu mengambil posisi duduk yang agak jauh. Hatiku masih tak karuan. Seperti melihat malaikat di pagi hari dan aku hanya bisa diam. Aku takut dia mendengar detak jantungku. Aku jadi salah tingkah. Kenapa bisa ada perasaan seperti ini. Kenal saja belum, batinku kesal.
“Mmm, mahasiswa baru ya?” Aku memberanikan diri.
“Iya, Kak. Orasi kemarin masih di Ponorogo, jadi belum bisa ikut.”
“Oo..” Hening, aku bingung memulai percakapan apa lagi. Padahal biasanya aku cerewet, di depan perempuan ini nyaliku seperti habis dipresto.
“Kok berangkat pagi sekali?” Aku bertanya.
“Iya, tadi kakak yang mengantarkan ke sini. Jadi sekalian berangkat lebih awal biar tidak terlambat, Kak” Jawabnya diplomatis sambil tersenyum, aku salah tingkah.
“Nama kamu...” Pertanyaan ini meluncur tanpa sadar. Tidak, bukan aku yang bertanya.
“Annisa, Kak. Annisa Nur Ain” Jawabnya.
“Mmm, nama yang bagus ya?” Dia hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Nama pemberian dari Ayah.” Tambahnya. Sekilas aku melihat ada kilatan air mata di sudut matanya.
Aku hendak bertanya lebih, tapi teman-teman sudah pada datang. Seperti rombongan perompak saja. Aji, Joko, dan Gani beriringan. Aksi dan gerak-geriknya seperti seorang artis yang memasuki panggung pertunjukkan. Bukan jelek, tapi mengerikan. Aku menutup wajah dengan telapak tangan. Menjaga pandangan ini dari pandangan tak menyehatkan di depan kelas. Mereka bertiga hanya tertawa sambil memegangi perut melihat tingkahku. Mereka tahu, aku tidak suka boyband dan girlband.
Aku kesal, dan berfikir keras membalas kejahatan mereka.
Akhirnya ku temukan jalan pembalasan. Aku melakukan embargo terhadap pelajaran yang mereka lemah di dalamnya. Aji yang lemah di Statistik akhirnya menyerah dan kembali menaruh hormat. Joko yang banci di pelajaran Pengantar Akuntansi juga takluk. Dan Gani yang tangguh di Matematika tapi memble di Bahasa Inggris akhirnya juga mengeluarkan bendera putih, menyerah tanpa syarat.
Aku benar-benar di atas angin. Sejak saat itulah kami kembali kompak. Lebih tepatnya menjadi semacam Simbiosis Mutualisme, mereka butuh bantuan pelajaran dan aku mendapatkan bantuan keuangan untuk tugas-tugas ringan. Tentu saja aku taipan yang paling beruntung dalam kasus ini. Karena aku tidak ditindas kepentingan siapapun dan dapat mengintimidasi siapapun yang melanggar aturan main.
Sementara itu aku semakin rajin saja berangkat pagi, menemui dan menemani bicara Annisa. Dalam hati kecilku aku telah merasakan kedamaian di dekatnya. Dan telah berjanji, kelak akan menjadikannya bagian dari kehidupanku mendatang. Sekalipun aku tidak pernah mengatakan ingin memilikinya, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.
Aku selalu tahu itu, dari caranya dia tersenyum, dari caranya dia memarahiku ketika aku salah, dari caranya dia bicara, dan dari caranya dia memandangku yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Aku yakin, dia akan menungguku kelak. Karena aku telah menemaninya dengan setia, setiap pagi mendengarkan isi hatinya, dari tahun pertama-hingga tahun-tahun berikutnya. Sepanjang hidupku.
***
Epilog Tiga Setengah Tahun Kemudian
Lulus, akhirnya kami semua menjadi Sarjana. Tidak ada satupun yang tertinggal sejak kami pertama kali kuliah dulu. Dan kini di belakang namaku telah tersemat pula sebuah gelar, Azza Nur Syamsiar, SE. Demikian pula Annisa, belahan hatiku yang terpendam. 
Minggu-minggu ini aku masih menikmati masa-masa yang menyenangkan selepas bebas dari kesibukan kuliah. Beberapa kongsi Simbiosis Mutualisme-ku dulu telah melanjutkan studinya. Joko melanjutkan studinya ke Bandung, di Universitas Padjajaran. Aji kembali ke daerahnya, melanjutkan S2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta sambil mengajarkan ilmu silatnya di UKM Tapak Suci.
Sedangkan Gani kembali ke Jawa Timur, melanjutkan studi S2-nya di Universitas Muhammadiyah Malang. Beberapa waktu yang lalu dia SMS, jika kelak S2-nya telah selesai dia akan mengejar gelar Doktor dan kembali ke Ngawi untuk mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di sana. Hebat. Aku masih ingat kalau dulu dia yang paling nggilani di kelas, dan kini telah menjadi pemuda visioner yang luar biasa.
Aku tersenyum, membayangkan masa lalu.
Aku menyalakan Laptop bututku, ingin kembali kulihat wajah-wajah mereka. Wajah-wajah tak kenal lelah yang berjuang di kampus biru untuk menjadi orang besar. Kemudian wajah mereka satu per satu muncul di layar. Tanganku terhenti kala wajah Annisa yang muncul di layar monitor. Dengan jilbab putihnya yang lebar, kacamatanya yang entah sekarang sudah minus berapa – karena terlalu banyak membaca dan menulis. Dan senyum, senyumnya yang menggetarkan kalbu itu. Tak pernah, tak pernah sedikitpun berubah.
Aku tersenyum melihat wajahnya di monitor. Astaghfirullah.
Aku baru tersadar kala ada SMS masuk di HPku. Dari Annisa.
“Assalamu’alaikum, Kakak. Kakak, bulan depan Annisa akan melanjutkan belajar. Sesuai wasiat Ayah, Annisa akan melanjutkan studi di Al Azhar, Kairo. Maka, melalui pesan singkat ini Annisa hendak menyampaikan maaf jika selama ini terdapat kesalahan baik ucapan maupun perbuatan terhadap kakak. Terima kasih telah menemani pagi yang indah selama hampir tiga tahun terakhir.
Kakak, ada waktu satu bulan. Jika kakak memang hendak ke jenjang yang lebih serius, manfaatkan waktu sebulan ini untuk ta’aruf kepada keluarga Annisa. Terima kasih dan sejuta maaf karena hanya lewat pesan ini Annisa bisa berani mengungkapkan isi hati Annisa kepada Kakak. Ingat kak, satu bulan”
Aku masih terdiam, mematung. Seperti habis kena santet membaca SMS tersebut. Namun, dalam hati ada perasaan indah yang tak dapat dilukiskan. Ya, semacam kebahagiaan yang menyejukkan hati. Aku membacanya berulang-ulang hingga hafal di luar kepala.
Aku pasti datang, Annisa. Pasti. Karena tak akan ku biarkan kesempatan sekali seumur hidup ini hilang begitu saja.
Aku menyalakan Winamp di Laptopku. Sambil tiduran aku putar satu lagu favoritku; Bondan – Not with me. Aku tersenyum dan memejamkan mata, sayup-sayup lagu tersebut terdengar semakin rendah dan semakin rendah. Lalu hadir alam bawah sadar bersama kenangan masa lalu. Aku bahagia dengan penjelasan yang terlampau sederhana...
I can see you if you’re not with me
I can say to my self if you were okay
I can see you if you’re not with me
I can reach you my self, you show me the way...
Semarang, Ba’da Isya’ 22 April 2012

7 Responses to "Cerpen - Cinta Kampus Roket"

  1. saya suka gaya penulisannya,..
    saya pasti berkunjung terus nich... sambil nyari ide tentang ciri khas gaya penulisan ku..
    keep posting ya,.

    ReplyDelete
  2. @admin hehehe.... siap mas brooo :) gaya tulisnya emang kaya gini :D

    ReplyDelete
  3. Mantaf, sukses selalu dinda ... ...salam hangat

    ReplyDelete
  4. @Masmulyadi makasih mas kunjungannya :) yang di IPM ya?

    ReplyDelete
  5. paling suka kutipan lagu di baris-baris terbawah :)

    ReplyDelete
  6. Saya suka ceritanya kak, Bagus.. ternyata dalam cerita ada si Gani juga hhaa :-)

    ReplyDelete
  7. ada kata2 namanya juga perempuan. Sekalipun mereka pintar-pintar di otak. Mereka tak pernah lepas dari kebiasaan yang satu ini: ngerumpi ha... ha... ibarat uda kayak makanan sehari2 no rumpi gk asyik

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih