Hari Kartini, Bukan Seremonial!

blogger templates
hari besar RA Kartini
Sang Pena - Opini - Salah satu kebiasaan media yang sudah mengakar, adalah kecenderungan untuk memberikan berita  sesuai dengan yang menjadi topik hangat di masyarakat. Selain karena temanya yang sudah laku, juga memberikan wacana pengetahuan terhadap apa yang sekiranya perlu diketahui masyarakat.
Banyak media yang seolah berlomba-lomba untuk mengangkat topik Kartini ke dalam beritanya. Media televisi misalnya, mendadak menyoroti wanita-wanita tangguh yang memberikan kontribusi dalam berbagai bidang; pendidikan, sosial, kemanusiaan dan lain-lain. Koran juga sama, topik berita utama mayoritas tentang sepak terjang tokoh wanita. Hingga ke ranah netizen, para blogger dan pegiat sosial media misalnya memberikan apreasi positif dengan mengangkat tema Kartini.
Memang sekilas tidak ada yang salah, namun terkesan bahwa Hari Kartini hanya sebatas seremonial. Dibesar-besarkan di banyak media sedangkan realisasinya tidak maksimal. Padahal, lebih dari itu ada banyak sekali pesan yang harusnya tersampaikan dan berkelanjutan atas perjuangan hidup RA Kartini. Nilai-nilai perjuangan yang harus diketahui oleh generasi muda saat ini.
Di salah satu buku RA Kartini, Door Duisternis tot Licht atau di Indonesia dikenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Terdapat banyak sekali pemikiran yang seharusnya patut untuk dijadikan teladan bagi generasi muda, sekalipun tulisan tersebut telah terbit 90 tahun silam (1922).
Salah satu pemikiran RA Kartini yang menurut penulis paling luar biasa, adalah adanya keinginan untuk membebaskan kaumnya dari deskriminasi yang sudah membudaya kala itu. Kala zaman RA Kartini, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk berekspresi layaknya perempuan saat ini.
Di era Kartini, sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 20, wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Dalam pendidikan, wanita dilarang untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria. Wanita juga dilarang untuk menentukan jodoh bagi dirinya sendiri. Sangat kontras dengan kondisi sekarang yang telah menempatkan kesetaraan gender dalam berbagai hal.
Berbagai batasan kebebasan tersebut yang akhirnya mengilhami pemikiran Kartini muda. Kartini merasa ada yang salah karena tidak memiliki pilihan ketika dilahirkan sebagai seorang wanita. Akhirnya, berbekal kemampuan bahasa Belanda yang diperoleh semasa sekolah di E.L.S. (Europese Lagere School, setingkat SD) Kartini muda mulai berkirim surat dengan wanita-wanita Eropa. Dari sana Kartini muda mulai paham, bahwa kehidupan wanita Eropa telah lebih maju daripada bangsanya.
Setelah melihat berbagai keadaan menyedihkan bangsanya, Kartini bertekad akan memajukan kehidupan wanita bangsanya. Dan satu-satunya jalan adalah melalui pendidikan. Kartini memulai langkah tersebut dengan mendirikan sekolah di daerah kelahirannya, Jepara. Sekolah yang mengajarkan apa yang harus diketahui oleh wanita kala itu; memasak, menjahit, menyulam, dan lain sebagainya. Semua tidak dipungut bayaran alias gratis.
Sekelumit kisah perjuangan RA Kartini tersebut harus dijadikan motivasi bagi generasi muda. Bahwa keterbatasan bukan menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Jangan biarkan perjuangan RA Kartini menguap diterpa zaman. Sekalipun RA Kartini meninggal dalam usia yang masih relatif muda, semangat perjuangannya untuk kita teladani sungguh luar biasa.
Ada banyak orang besar di negeri ini, tapi ingat sebesar-besarnya orang tersebut dia juga terlahir dari rahim seorang ibu. Akhirnya, selamat Hari Raya Kartini, jangan mengkultuskan hari Kartini dan menjadikannya sebatas seremonial. Buktikan dengan tindakan yang berkesinambungan, just talkless do more! Jaya Wanita Indonesia! Sang Pena

0 Response to "Hari Kartini, Bukan Seremonial!"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih