Cerpen : Memaknai Spirit Senin

blogger templates
memaknai hari senin
Sang Pena - Cerpen - Tulisan berikut saya dapat dari milis WordSmardCenter  semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca semua. Selamat membaca :)
Males.
Sudah sejak tadi subuh. Mau bangun susahnya minta ampun. Nggak tahu deh. Pokoknya ini selimut kayaknya lengket banget. Pantesan disebut blanket. Sekali nge-blank. Terus lengket. Padahal jumlah jam tidur sama dengan hari-hari sebelumnya.  
 
Begini nih, kalau kena sindrom senin melempem. Don’t like Monday. Kemarin-kemarin sih masih bisa bilang lagi nggak enak badan. Jadi bisa libur tambahan sehari tanpa surat dokter. Atau. Yaaaa…., minimal masuk agak siang. Kan namanya juga sakit. Tapi. Masak sih, kok tiap senin bilang nggak enak badan.
 
Sebenernya nggak bo’ong kok. Emang lagi nggak enak badan. Manksudnya, badan ini lagi nggak enak kalau diajak kerja. Tapi kalau diajak jalan-jalan sih oke aja. Cuma gimana ya… Kayaknya ada yang ngganjel aja dihati.
 
Belon lagi kalau ketahuan teman lagi jalan-jalan. Pernah tuch kejadian. Teman kita juga sih. Ini bukan ngomongin orang ya. Dosa tauk. Ini sih cuman ngasih contoh aja kejadian yang mesti kita hindarin. Supaya kita jangan ngalamin nasib apes kayak begitu. Kejadiannya belon lama sih. Ya kira-kira tiga minggu lalu.
 
Teman kita itu nggak masuk kantor. Ceritanya sih doi apa pembantunya gitu, nelepon kalau doi sedang sakit. Jadi nggak ngantor. Ya udah dong. Semua orang pada maklumin kalau dia nggak masuk.
 
Si Sekris tuch yang tahu. Secara doi kan harus beli perlengkapan kantor. Nggak tahu deh, pokoknya ada stationary yang mesti dibeli cepet-cepet. Ya udah dong Sekris meluncur ke toko stationery di Kelapa Gading.
 
Itulah kalau lagi apes. Teman kita yang sedang sakit itu malah kepergok lagi makan baso gepeng. “Bukannya elo lagi sakit, $$$$?” spontan dong Sekris nanya gitu.
 
Nggak kebayang deh merah mukanya teman kita itu. Biarpun dia jelasin dengan sejuta alesan. Kita semua kan tahu gelagatnya. Masih untung dia nggak kepergok atasannya. Kalau sampai kejadian. Habislah dia.
 
Hari ini. Sindrom males senin datang lagi.
Seperti tamu mingguan aja. Malesnya bisa lebih parah daripada tamu bulanan. Tapi susahnya, khusus untuk tamu bulanan kan ada aturan yang membolehkan jika memang nggak bisa masuk kantor. Sah. Nggak usah pake bo’ong segala. Kalau tamu mingguan ini nggak ada justifikasinya sama sekali.
 
Untungnya. Hampir semua orang mengalami itu. Makanya. Kalau setiap senin. Kebanyakan orang di kubikal datang dengan muka yang kurang seger. Emang sih, mereka nggak sampai terlambat. Soalnya. Disini keterlambatan sangat beresiko. Soalnya, kartu absen sudah elektronik. Dan dijadikan sebagai bagian dari Performance Management System.
 
Gila aja kali kalau sampai keseringan terlambat. Bisa jeblok tuch nilai appraisal akhir tahun. Makanya sejak penerapan PMS yang dikaitkan juga dengan absensi, semua orang di kubikal sudah jarang telat lagi. Pokoknya gimana deh caranya supaya bisa sampai ke kantor sebelum jam 8.
 
Tapi ya itu. Masalahnya. Mereka secara fisik emang udah ada dikubikal. Tapi dilihat dari muka mereka. Dari cara berjalannya. Dari cara duduknya. Semua kerasa banget kalau mereka itu masih males banget buat mulai kerjaan di hari itu.
 
Padahal. Kalau mau jujur ya. Nggak ada loh alasan yang bener-bener bermutu. Kenapa setiap senin kita jadi males gini. Nggak ada apa-apa kok. Malah mestinya kan makin semangat setelah libur di hari sabtu dan minggu.
 
Sekarang sudah jam setengah Sembilan. Tapi. Belon juga ada tanda-tanda kalau mereka sudah siap untuk mulai bekerja. Pada nggerombol aja. Ada juga sih yang duduk dikubikalnya sendiri. Cuman. Semua yang dilakukannya menggunakan slow motion seperti di film The Six Million Dollar Man atau…. Bionic Woman.
 
Jadul banget kan film itu. Sama seperti jadulnya pameo yang mempengaruhi mereka: I don’t like Monday. Padahal, ada dosa apaaaa yang sudah dilakukan oleh hari senin. Kok semua orang pada benci sama dia. Nggak tahu deh. Siapa yang memulai ungkapan jelek itu. Tapi, karena sudah masuk ke believe system pribadi, maka itu menjadi semacam ‘common value’.
 
“Mohon perhatian….” Suara announcer terdengar di speaker. Kayak dibioskop gitu deh gayanya. “Penguuuumuman.” Katanya. “Kami informasikan bahwa berdasarkan laporan dari International Labor Organization dalam kurung ILO…..”

Wuih. Pengumuman penting nih. Pake mengutip data ILO segala.
 
“Ternyata pada hari ini,” kata announcer itu. “Terdapat sebanyak Satu Koma Satu Milliar pengangguran di seluruh dunia…..”
 
Semua orang di kubikal terkesiap ketika mendengar kalimat 1,1 miliar pengangguran didunia. Mereka sudah nggak sempat lagi mendengarkan pengumuman berikutnya. Perhatian mereka langsung tersedot kepada fakta yang selama ini sering terlupakan itu.
 
Bayangkan. Ada 1,1 milyar manusia di seluruh penjuru dunia yang hari senin ini nggak punya pekerjaan. Mereka setress justru gara-gara di hari senin ini bingung. Mau ngerjain apa?
Sedangkan kita. Yang sudah disediakan kubikal lengkap dengan meja, kursi dan komputer. Serta perlengkapan lainnya. Jangan lupa juga dengan AC yang mengebuskan udara sejuk. Ditambah lagi dengan asuransi kesehatan. Gaji yang udah jauh diatas UMR. Bonus. Uang makan. Insentif. Semuanya. Lha, kok malah sebel banget mau mulai kerja di hari senin.
 
Nggak tahu diri kali ya kita ini?
Pernah nggak sih ngebayangin. Gimana rasanya kalau kita ini merupakan salah satu dari yang 1,1 milyar itu. Nggak usah deh ngebayangin sampai sejauh itu. Inget deh waktu dulu kita masih ngelamar kesana-sini. Seteress juga kan?
 
Terus. Kalau sekarang udah dapat  kubikal ini kenapa sikap kita kok malah sebaliknya. Setiap senin males. Kerja asal-asalan aja. Nggak peduli sama kepentingan perusahaan. Padahal, dulu. Kita memohon-mohon supaya diterima kerja disini.
 
Janji gombal didepan pewawancara kalau kita sanggup mengerahkan semua kemampuan demi kemajuan perusahaan. Bertekad untuk mendedikasikan yang terbaik bagi perusahaan. Pokoknya, semua kata-kata manis biar pewawancara menerima kita kerja disini. Lha, kok sekarang malah jadi sebaliknya.
 
Bayangin elo jadi satu diantara 1,1 milyar itu.
Baru deh bakal kerasa. Betapa berharganya setiap hari senin yang elo miliki.
Ada 1,1 miliar orang yang nggak bisa menikmati liburan sabtu dan minggu. Gimana mau menikmati liburan sabtu minggu. Orang mereka itu nggak punya penghasilan kok. Dan disetiap hari sabtu minggu itu mereka selalu mendambakan hari senin yang menjadi hari pertama mereka masuk kerja.
 
Atau. Mungkin elo ngerasa libur sabtu dan minggu itu kurang. Pengennya tiga hari. Sabtu-minggu-senin. Oke banget. Ya elo cobain aja. Paling juga elo ganti tuch jargon bodong elo jadi ‘I don’t like Tuesday.’
 
Kalaupun elo ditambah libur satu hari lagi jadi sabtu-minggu-senin-selasa. Di hari rebo. Elo pasti males juga. Elo pan bakalan don’t like Wednesday.
 
Elo bakal seneng banget sama semua hari kerja elo. Kalau elo ditambah liburan 3 hari lagi. Jadi setiap pekan elo dapat liburan di hari sabtu. Hari minggu. Hari senin. Hari selasa. Hari rabu. Hari kamis. Dan hari jumat.
 
Nah…., kalau kantor elo udah ngasih elo libur sebanyak itu. Baaaru deh elo bakal kangen setengah mati dengan hari-hari kerja yang selama ini elo paling malesin itu. Tahu kenapa? Karena dengan jatah libur yang banyak banget itu. Maka elo bisa menjadi anggota serikat penganggur yang 1,1 milyar itu.
 
“Demikian pengumuman penting ini untuk diperhatikan,” suara announcer kembali terdengar. “Sebagaimana bisa rekan-rekan baca pada whiteboard yang dipasang di pantry….” Lanjutnya.
 
“Yaaaa… baiklah,” sahut seseorang. “Kalau begitu saya mau ke pantry sekarang,” katanya sambil ngeloyor.
“Lho, ngapain Bapak ke pantry lagi?” celetuk Opri. “Menu hari ini di whiteboard kan sudah dibacain announcer….”
 
“Saya mau ketemu Natin langsung ah…” jawab Pak Mergy. “Soalnya, saya kok ngerasa kali ini Natin nyindir sama saya….” Lanjutnya.
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa pekerjaan kita adalah anugerah yang tiada ternilai. Namun kita kadang melupakannya. Dibelahan bumi manapun. Ada orang-orang yang membutuhkan pekerjaan kita. Nggak usah jauh-jauh menengok ke belahan bumi yang jauh. Tetangga sebelah rumah kita aja mungkin nggak punya pekerjaan tetap seperti yang kita punya. Teman sekolah kita. Mungkin masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Sedangkan kita? Merasa berat hati untuk menjalani pekerjaa ini. Sungguh nggak elok ya. Makanya. Berubah deh. Yuk. Kita syukuri anugerah pekerjaan ini. Dengan melakukannya secara suka cita. Karena dengan sukacita. Kita bisa menghasilkan pencapaian yang luar biasa.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

Catatan Kaki:
Sebaik apapun pekerjaan yang tidak kita miliki, tetap saja nggak ada artinya bagi kita. Seberat apapun pekerjaan yang kita miliki. Itulah yang patut kita syukuri.
 
Ingin tahu kisah-kisah seru Natin & The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/
[Sang Pena]

4 Responses to "Cerpen : Memaknai Spirit Senin"

  1. blognya keren gan tapi lumayan berat

    ReplyDelete
  2. @binkbenk bukan berat gan, cuma speednya aja yang kurang mendukung, kalo diakses dari kampus blog ini kereen speednya, hehehe...

    ReplyDelete
  3. Wahahaha ayo semangat sobat jangan malas gt dong

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih