Akhir Perjalanan - Sebuah Cerpen

blogger templates
akhir sebuah perjalanan
Perjalanan tak selalu selamanya berakhir mulus, kadang ada pahitnya, kadang ada manisnya. 
Sang Pena - Cerpen - Oleh : Ahmad Puryono* (dimuat Harian Sindo, 3 Juni 2012)
Lelaki itu tertunduk lesu. Wajahnya menekuri lantai pengadilan. Pikirannya melayang- layang seperti awan yang tertiup angin. Pendengarannya tak lagi menyimak suara hakim yang membacakan putusan atas kasusnya.

Dan hari itu,bisa jadi hari paling panjang dalam sejarah hidupnya. Sebab,ketukan palu hakim tiga kali, telah memvonisnya dua belas tahun penjara.Ia merasakan, langit-langit ruang pengadilan seolah runtuh,lebih dahsyat dari sekedar guntur yang menggelegar di siang bolong dan menyambar pucuk nyiur. Tanpa sadar, seorang petugas kejaksaan menepuk pundaknya. Ia terperanjat. Sama sekali tak menyadari jika pembacaan putusan telah usai.

Lelaki itu, Karim Kamaluddin, mantan Ketua Komisi XX Dewan Permusyawaratan Rakyat Jelata, tanpa ekspresi, kuyu dan lunglai, dituntun dua petugas kejaksaan dan dikawal tiga polisi, melangkah meninggalkan ruang pengadilan,menuju mobil tahanan yang siap melaju ke Lembaga Pemasyarakatan di ujung kota. Sebab, hari itu juga,eksekusi atas dirinya langsung berlaku.Artinya, Karim langsung menghuni penjara kelas IA.

Sepanjang perjalanan, angannya kembali menyimak kejadian demi kejadian hingga menggiringnya pada situasi seperti ini.Ketika itu, usai rapat kerja dengan Menteri Kehutanan, sebuah tim kecil yang terdiri lima orang mengikutinya ke ruang kerjanya.Setelah berbasa-basi, prinsipnya tim tersebut menginginkan Karim menggolkan tender proyek pengadaan alat pendeteksi terintegrasi dengan penunjukan langsung, melalui mekanisme pengesahan undang-undang. Ada perdebatan yang muncul dalam pertemuan tersebut.

“Sebagai ketua komisi, suara Pak Karim pasti langsung didukung oleh fraksi- fraksi. Apalagi jika mereka kita lobi dulu. Proyek ini toh untuk kepentingan publik, bukan kepentingan orang per orang, Pak,”tukas ketua tim mantap. Karim hanya menghela napas berat. Ia sadar betul, permintaan tim kecil ini sesungguhnya berlawanan dengan nuraninya. Ia masih ingat betul, tiga kebijakan yang diambil komisinya beberapa waktu lalu telah mengundang kontroversi di ranah publik dan mencuatkan resistensi di kalangan sesama anggota Dewan.

Padahal, kebijakan itu ia ambil, benar-benar mengatasnamakan kepentingan rakyat. Apalagi proyek ini, yang menurut kata hatinya, tidak jelas juntrungannya. Betapa tidak, ketika ia berdiskusi dengan koleganya di Komisi XX terkait proyek tersebut, mereka sama sekali tidak memberikan lampu hijau, tapi justru sebaliknya. Dan sejak tak ada sinyal positif dari sejawatnya, proposal yang teronggok di samping meja kerjanya, dua bulan lalu itu tak disentuhnya sama sekali.

Namun, kini justru menjelma menjadi batu sandungan, dan sungguh di luar jangkauan nalarnya. “Tapi Fraksi Banteng Ketaton akan bereaksi keras dengan kebijakan itu,Pak. ketua fraksinya tahu persis bagaimana duduk persoalan masalah ini,”jelas Karim. Sebelum melontarkan pendapat, sang ketua tim mengatur tempat duduknya lebih dekat dengan Karim.Ia seperti hendak merekatkan kepingan yang tercerai berai. Dengan wajah pasti ia pun menjawab diplomatis.

“Itu bagian kami untuk mengurusnya.Kami akan lakukan pendekatan dengan DPPnya. Salah satu ketua DPP-nya adalah orang kami. Jadi, Pak Karim nggak usah terlalu risau dengan fraksi itu. Pak Karim hanya perlu sedikit meyakinkan komisi bahwa kebijakan ini implementasinya akan sangat menguntungkan masyarakat sekitar,” tambah ketua tim. Untuk kesekian kalinya, opini Karim terpatahkan.

Politikus senior, predikat yang selama ini disematkan insan pers padanya, seolah tumpul menghadapi gempuran para avonturir ini. Ia bungkam dalam ribuan kata,dan terkunci dalam selaksa kebisuan.Lantai ruang kerjanya yang terbuat dari marmer Italia, seolah mencibir ketidakbecusannya menghadapi kurcaci proyek ini. “Masyarakat yang semula terisolasi,maka dengan sistem pendeteksi terintegrasi ini, mereka akan sangat terbantu.

Roda perdagangan di daerah itu akan semakin diperhitungkan pemerintahan provinsi. Dari aspek apa pun, gubernur dan bupati akan melihat ini sebagai proyek publik, proyek untuk kepentingan bersama, proyek rakyat,” ungkap anggota tim lain dengan nada mantap,berusaha meyakinkan Karim. Posisi Karim benar-benar terpojok.Tak ada satu pun kalimat yang bisa mewakili kegelisahannya, atau sekadar menghindarkan diri dari serangan para kurcaci yang datang bertubi- tubi.

Sembari merebahkan tubuh di kursi, dipegangnya kepalanya dengan kedua belah tangannya. “Hmm...Saya akan pikirkan dulu,” lirih jawaban Karim. Cerminan jawaban dari politikus senior yang kalah perang. Sorot mata sang ketua tim sedikit berbinar.Ada semacam kejernihan di rona wajahnya. Politikus kelas kampung ini tiba-tiba merasa menjadi pemenang. Ia menepuk bahu Karim dengan sentuhan seorang sahabat. “Pak Karim, lusa rapat komisi.

Dan dua hari kemudian paripurna. Artinya, Bapak tidak punya waktu untuk berpikir sendiri. Dalam rapat komisi, fraksi Bapak mesti sudah harus punya tolok ukur,sehingga waktu dua hari sebelum paripurna,komisi Bapak harus sudah punya bahan untuk menggolkan proyek ini,” tukas ketua tim. Mendadak tensi Karim serasa mendidih demi mendengar perkataan ketua tim.Ia kembali dalam posisi duduk yang semestinya.

Seketika matanya nanar, dan hendak menebas habis semua yang hadir di ruangannya. “Tolong saya jangan didikte!” sahut Karim dengan nada tinggi. Sejurus ruangan beku dalam keheningan.Hanya detak jam dinding yang merangkaki waktu dan mengubah dari angka ke angka berikutnya. “Pak Karim, maaf kami bukan mendikte. Sebagai wakil rakyat,Bapak mesti menomorsatukan kepentingan orang banyak, kepentingan rakyat.

Proyek ini menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Kami tidak bisa membayangkan, jika proyek publik ini gagal. Dewan akan dihujat habis oleh rakyat, dan komisi Bapak akan dikecam habis oleh sesama anggota Dewan,” bantah anggota tim yang berbadan tambun. “Saya tahu,saya lebih tahu! Tapi jangan tekan saya seperti ini!” jawab Karim dengan emosi. Ketua tim memandang lurus ke arah salah satu anggota tim yang berjenggot putih. Raut mukanya bersih, dan tampak lebih arif dari lainnya.

“Kami minta maaf, kalau Bapak merasa sedikit tertekan. Cuma masalahnya, kami tidak ingin proyek ini menjadi bancakan gubernur provinsi kami beserta saudara-saudaranya. Jadi...” “Tunggu dulu. Bancakan? Apa maksudnya?”tanya Karim penasaran. Si tampang arif mencoba meredakan ketegangan. Ia sengaja mengaja krekan- rekannya untuk menikmati air mineral botol yang sudah tersaji di hadapan masing-masing.

“Di sinilah sebenarnya inti dari proyek ini Pak.Jadi begini, gubernur sudah mendengar kalau pemerintah pusat akan merehab semua alat pendeteksi di provinsi kami dengan sistem yang lebih terintegrasi. Semua itu dianggarkan lebih kurang 700 miliar. Nah, gubernur pun bersiasat dengan membentuk perusahaan-perusahaan fiktif yang dikendalikan sanak saudaranya sendiri.Tujuannya bisa ditebak, agar tender proyek jatuh ke tangannya lewat saudara-saudaranya itu,” terang anggota tim yang nampak arif. Sontak, Karim pun mencecarnya.

“Nah, terus bapakbapak ini di pihak siapa?” sahut Karim sarat kecurigaan. Anehnya, tak sedikit pun dari raut wajah mereka ketegangan atau emosi. Kendati dari daerah,boleh dibilang wajah mereka teduh, menyiratkan pemain profesional sejati. “Kami adalah organisasi masyarakat bawah yang membentuk perusahaan agar tender tersebut jatuh ke tangan kami, sehingga uang negara tidak akan menjadi bancakan para petinggi,tapi kembali lagi ke tangan rakyat.

Senjatanya, undang-undang proyek daerah yang akan bapak sahkan itu,” jawab si arif lagi. “Gini aja deh,saya akan berjuang tapi tidak menjanjikan keberhasilan. Oke,” tukas Karim dengan harapan dapat menyudahi perbincangan tersebut. Namun, orang bertampang arif tadi hanya tersenyum kecil. Ia seperti tahu persis ke mana arah pikiran Karim. “Pak Karim, rakyat di daerah kami yang mengusung Bapak, karena Bapak dari daerah pemilihan kami. Jadi, kami sangat mengharapkan Bapak memperjuangkan kepentingan daerah kami, juga daerah Bapak sendiri.Dan,kami pikir, ini bukan satu kesalahan kan Pak?”

*** Dua hari kemudian, ketika Karim memimpin rapat komisi, ia terkesima.Betapa tidak,nyaris semua fraksi dalam komisi yang ia pimpin mendukung keputusannya. Sepanjang sejarah perjalanan politiknya, baru kali ini ia mengalami sesuatu yang di luar jangkauan pikirannya. “Ini gila.Pekerjaan macam apa ini,semuanya lancar tanpa kendala.Gila,benar-benar gila!” gerutunya usai memimpin rapat komisi,di ruang kerjanya.

“Bapak sudah saksikan sendiri apa yang terjadi di rapat komisi kan? Masihkah Bapak meragukan kerja kami?” Di penghujung hari,di masa reses anggota Dewan yang tinggal satu pekan, ponsel Karim lebih sering berdering. Entah pesan pendek, atau telepon langsung, semuanya menyatakan kekaguman atas kerja keras Karim. Namun, sampai sejauh itu, Karim tetap belum percaya dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Ia masih saja bertanya-tanya, apa yang telah dilakukan tim kecil, sehingga mampu memenga-ruhi hasil akhir rapat paripurna dengan mulus, nyaris tanpa cacat. 
* Penuls tinggal di Jakarta.
Beberapa cerpennya dimuat di berbagai media cetak nasional. 
 
[Sang Pena, 6 Juni 2012] 

2 Responses to "Akhir Perjalanan - Sebuah Cerpen"

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih