Kembali ke Soekarno

blogger templates
presiden soekarno
Sang Pena - News - Oleh : Hilmia Wardhani* Minimnya pasokan energi menjadi polemik yang laris manis diperbincangkan setiap tahun. Polemik ini dinilai merupakan ironi karena sesungguhnya Indonesia bukanlah negara yang miskin energi,tetapi malah sebaliknya.

Negara kita kaya akan batu bara,minyak,dan gas sebagai sumber energi tidak terbarukan. Sayang,sumber energi tersebut malah diekspor berlebihan ke luar negeri sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal di negeri sendiri. Indonesia tercatat sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia.Tahun 2011, ekspor batu bara mencapai 340 juta ton (Kompas.Com, 1/6). Sungguh disayangkan jika batu bara sebanyak itu hanya dijadikan komoditas ekspor.

Mengapa? karena hobi mengekspor batu bara berdampak pada minimnya peran benda tersebut sebagai pendorong perekonomian bangsa. Batu bara digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi roda penggerak industri. Asumsinya adalah jika proses produksi optimal, jumlah produk yang dihasilkan pun semakin meningkat.Jika peningkatan jumlah produk diiringi dengan melonjaknya permintaan,penjualan akan semakin besar dan keuntungan yang didapat pun akan bertambah.

Semua itu akan bermuara pada peningkatan perekonomian.Sayang,kondisi sebaliknya malah terjadi Indonesia. Barangkali,sudah saatnya dipikirkan sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi polemik energi di Indonesia.Ada baiknya jika menengok sebentar pada petuah Soekarno beberapa waktu silam: “Biarkan kekayaan alam itu di dalam tanah, tunggu sampai anak bangsa mampu mengolah sendiri.” Kata-kata Soekarno tersebut bisa menjadi titik tolak bagi pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang solutif.

Pertama, pengaturan ekspor batu bara meliputi jumlah maksimum ekspor dan sanksi bagi pelanggar. Peraturan ini perlu diberlakukan untuk mengantisipasi kemungkinan ekspor berlebih yang dapat mengganggu pemanfaatan batu bara untuk Indonesia sendiri. Kedua, melakukan regenerasi sumber energi pada generasi muda,khususnya mahasiswa. Regenerasi berarti pengalihtugasan untuk mengolah dan memberdayakan sumber energi pada mahasiswa.

Regenerasi ini perlu dilakukan agar tercipta generasi muda yang cakap dan kreatif mengolah batu bara dan sumber energi lain menjadi energi baru yang bermanfaat. Regenerasi ini tidak hanya terpusat pada mahasiswa pertambangan atau pengolahan energi, tetapi juga mahasiswa lain yang relevan. Misalnya mahasiswa kelautan yang diharapkan mampu mengubah gelombang laut menjadi sumber energi baru atau mahasiswa jurusan nuklir untuk menciptakan energi dari nuklir.

Tidak bisa disalahkan bila batu bara menjadi komoditas ekspor yang potensial. Barangkali muncul pemikiran bahwa daripada energi itu terbengkalai sia-sia, lebih baik dimanfaatkan dengan cara diekspor. Namun, ekspor bukanlah pilihan satu-satunya. Justru langkah yang bijak adalah menunggu waktu yang tepat untuk memanfaatkan sumber energi tersebut dengan mencetak pion-pion penggerak terlebih dahulu.

Jika pion tersebut sudah siap, barulah sumber energi tersebut diberdayakan untuk Indonesia. Dengan demikian,kebermanfaatan yang dicapai lebih besar daripada mengirimnya ke luar negeri untuk dimanfaatkan negara lain.
* Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang
Dimuat Harian SINDO 15 Juni 2012 

2 Responses to "Kembali ke Soekarno"

  1. Indonesia sekarang bukanlah negara tapi adalah sebuah Perusahan bisnis bernama Indonesia. Karena penguasanya sang haus darah materi...
    http://pc-yours.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih gan :) akan segera ane kunjungi :)

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih