Tuhan Dalam Naskah Kitab Suci dan Sejarah

blogger templates
Tuhan dalam kitab suci
Sang Pena - Kiriman opini dari mas Eko :)
1. Tuhan dalam sejarah dan pandangan Islam
Tuhan yang disembah oleh Muslimin di seluruh dunia adalah satu-satunya Tuhan alam semesta yaitu ALLAH. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah Al-Ikhlash yang menerangkan kita tentang ke-Esa-an Nya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
1. Katakanlah : ALLAH itu esa
2. ALLAH tempat semua bergantung
3. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada satupun yang setara dengan diri-NYA(Al-Ikhlash:1-4)
Disini sudah dijelaskan pada ayat pertama bahwa Tuhan itu hanya satu, mutlak, dan tidak dapat dibagi lagi, karena Tuhan adalah Sang Pencipta (Kholiq) dan siapapun selain Tuhan adalah ciptaan-Nya (Makhluq). Pada ayat kedua dijelaskan bahwa Tuhan adalah tempat semuanya bergantung, dan bukan kebalikannya Tuhan yang bergantung kepada kita (manusia ataupun makhluq ciptaan yang lain). Pada ayat ketiga Juga dijelaskan esensi Tuhan yang tidak memiliki sekutu, tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, karena bila Tuhan diperanakkan berarti Tuhan memiliki sekutu dan sama seperti makhluq-Nya yang bisa beranak dan diperanakkan. Pada ayat keempat lebih dipertegas lagi bahwa tidak satupun yang setara dengan Tuhan, karena ALLAH tidak bisa disamakan dan digambarkan dalam bentuk apapun walaupun bentuk itu digambarkan dalam wujud manusia sempurna ataupun roh yang melayang-layang, bila Tuhan dapan digambarkan, diumpamakan, dan disetarakan dengan para makhluq ciptaan-Nya maka Tuhan akan terikat oleh dimensi ruang dan waktu seperti kita. Namun Tuhan tidak terikat dimensi ruang dan waktu menurut ukuran manusia atau pola pikir manusia yang terbatas, Tuhan lebih dari semua yang ada di dunia ini karena Dia adalah Sang Pencipta, sehingga kita tidak dapat menggambarkan-Nya dalam imajinasi dan segala keterbatasan kita sebagai makhluq.
Namun banyak pula dari kalangan diluar Islam yang mengarang cerita bahwa ALLAH adalah dewa bulan, dewa matahari, dewa air, dewa angin, dan berhala Arab pada masa sebelum Nabi Muhammad SAW. Cerita dongeng tersebut hanyalah cerita karangan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, karena pada masa jahiliyyah yang disembah oleh kaum Arab Quraisy adalah dewa yang bernama Hubal, Latta, ‘Uzza, dan Manat. Namun sebelum masa Nabi Muhammad SAW, para Nabi dan Rasul terdahulu sudah mengajarkan Tauhid. Bangsa Arab yang memegang Tauhid adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim AS, Seperti Waraqah bin Naufal yang beriman kepada kenabian Muhammad SAW sesuai dengan yang mereka yakini bahwa akan ada Nabi akhir zaman yang menyempurnakan ajaran Nabi dan Rasul terdahulu.
2. Tuhan dalam sejarah dan pandangan Kristen
Tuhan yang “disembah” oleh umat Kristen di seluruh dunia tergambar dalam suatu wujud manusia yang bernama Yesus/Jesus/Yeshua/’Isou/Iesous (Ἰησοῦ/Ἰεσους), ini semua adalah hasil dari ajaran Paulus/Saulus (Παῦλος/Σαῦλος) bahwa Tuhan itu satu yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus (τοῦ Πατρὸς καὶ τοῦ Υἱοῦ καὶ τοῦ ἁγίου Πνεύματος) ajaran ini disebut dengan Trinitas/Trinity. Jadi ketuhanan umat Kristen terdapat dalam pribadi Yesus itu sendiri, yang merupakan firman yang hidup dengan menjadi penjelmaan dari Tuhan itu sendiri. Sebagaimana ditulis dalam Yohanes 1:1 yang berbunyi:
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος, καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν, καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1)

Jadi firman itu adalah Allah sendiri lalu menjelma kedalam dunia sebagai Yesus, sebagaimana dituliskan dalam Yohanes 1:14 yang berbunyi:
Καὶ ὁ Λόγος σὰρξ ἐγένετο καὶ ἐσκήνωσεν ἐν ἡμῖν, καὶ ἐθεασάμεθα τὴν δόξαν αὐτοῦ, δόξαν ὡς μονογενοῦς παρὰ πατρός, πλήρης χάριτος καὶ ἀληθείας.
Firman itu telah menjadi daging dan hidup diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaannya yaitu kemuliaan anak tunggal bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.(Yohanes 1:14)

Setelah itu ada lagi penambahan satu oknum tuhan dalam theology Kristen yaitu Roh kudus, berdasarkan surat 1 Yohanes 5:7
ὅτι τρεῖς εἰσιν οἱ μαρτυροῦντες ἐν τῷ οὐρανῷ, ὁ Πατὴρ, ὁ Λόγος καὶ τὸ ἅγιον Πνεῦμα, καὶ οὗτοι οἱ τρεῖς ἕν εἰσι.
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di surga: Bapa, Firman, Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu (1 Yohanes 5:7)

Yesus secara sah diangkat oleh gereja pada Konsili Nicea I, yang diselenggarakan di Nicaea, Bithynia (sekarang İznik di Turki), dan yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi (Konstantinus Agung I) pada tahun 325 Masehi, hasil utamanya adalah keseragaman dalam doktrin Kristiani, yang disebut Kredo Nicea. Dengan diciptakannya kredo ini, terbentuk suatu preseden bagi konsili-konsili umum (ekumenis) para uskup (sinode-sinode) untuk menciptakan pokok-pokok pernyataan iman. Tujuan diselenggarakannya konsili ini adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dalam Gereja Alexandria mengenai hakikat Yesus. St.Alexander dari Alexandria dan Athanasius berpendapat bahwa Yesus setara dengan Tuhan; sedangkan seorang Presbiter populer bernama Arius, yang dari namanya muncul istilah Arianisme, berpendapat bahwa Yesus dan Tuhan bukanlah satu dalam pribadi melainkan hanya satu dalam misi. Namun konsili memutuskan bahwa pendukung Arius telah keliru dan kemudian Yesus diakui menjadi Tuhan secara sah untuk pertama kalinya.
Setelah Konsili Nicea I, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun, apalagi setelah Athanasius meninggal pada tahun 373 Masehi. Namun Kaisar Theodosius yang berkuasa pada saat itu mengambil keputusan menentang mereka dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 Masehi yang kemudian hasil dari konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Yesus, dan dari sinilah awal mula terbentuknya Trinitas secara sah dan diakui oleh gereja.
3. Memilih Tuhan berdasarkan Akal, Fikiran, dan Nurani
Kita sebagai manusia adalah makhluq yang paling sempurna, karena kita diberikan kelebihan berupa akal, fikiran, serta naluri. Dari kelebihan yang kita miliki tersebut maka kita harus dapat berfikir secara logis, berakal sehat, dan dengan nurani yang bersih dalam menafsirkan pemahaman tentang Tuhan. Kita dapat memilih Tuhan mana yang akan kita sembah, apakah Tuhan yang benar-benar maha segalanya?, ataukah Tuhan yang harus dibagi tiga untuk dapat melakukan segalanya?. Dari konteks tersebut maka kita dapat membandingkan antara yang Haq dan yang Bathil. Tuhan itu hanya satu/esa tiada berawal dan tiada akhir, Tuhan adalah yang Maha Esa, sebagaimana dituliskan dalam Ulangan 6:4, Markus 12:29

שְׁמַע, יִשְׂרָאֵל: יְהוָה אֱלֹהֵינוּ, יְהוָה אֶחָד
Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan ALLAH kita, Tuhan itu esa! (Ulangan 6:4)

ὁ δὲ Ἰησοῦς ἀπεκρίθη αὐτῷ ὅτι Πρώτη πάντων ἐντολὴ· ἄκουε, Ἰσραήλ, Κύριος ὁ Θεὸς ἡμῶν Κύριος εἷς ἐστι·
Jawab Yesus:"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan ALLAH kita, Tuhan itu esa.(Mark 12:29)

Dari referensi Alkitab diatas sudah jelas bahwa Tuhan itu esa, Al-Qur’an sebagai kitab yang menyempurnakan ajaran kitab terdahulu juga memberi kesaksian bahwa ALLAH itu esa di Surah Al-Ikhlash
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد
Katakanlah: ALLAH itu esa (Al-Ikhlash: 1)

Begitu pula dengan doktrin Trinitas yang membagi Tuhan menjadi tiga pribadi, sebenarnya sudah terpatahkan oleh ayat Alkitab sendiri, dimana tertulis bahwa Tuhan itu tidak dapat disetarakan dengan manusia, ataupun anak manusia, karena Tuhan tidak beranak dan diperanakkan seperti manusia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an di surah Al-Ikhlash:3 dan dalam Alkitab Bilangan 23:19
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
ALLAH tempat semua bergantung. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (Al-Ikhlash: 2-3)
לֹא אִישׁ אֵל וִיכַזֵּב, וּבֶן-אָדָם וְיִתְנֶחָם; הַהוּא אָמַר וְלֹא יַעֲשֶׂה, וְדִבֶּר וְלֹא יְקִימֶנָּה
‎"TUHAN BUKANLAH MANUSIA sehingga ia berdusta, bukan pula ANAK MANUSIA sehingga dia menyesal. Apakah setelah dia berfirman dia tidak melakukannya, dan dia berbicara dia tidak menegakkannya?"(Bilangan 23:19)

Dari ayat diatas sangatlah tidak mungkin bahwa ALLAH yang maha esa menjadi manusia (Yesus), Bahkan Yesus juga tidak mengklaim dirinya adalah Tuhan, seperti pada Markus 12:29 diatas. Bila yesus mengklaim dirinya Tuhan maka bunyi ayatnya menjadi “Dengarlah orang Israel, Tuhan kalian adalah Aku”. Jelas sekali bahwa Tuhan tidaklah dapat disamakan dengan apapun baik itu Yesus ataupun roh kudus. Ditegaskan kembali dalam Yesaya 46:5, Yesaya 46:9, dan disempurnakan oleh Al-Ikhlash:4
לְמִי תְדַמְּיוּנִי, וְתַשְׁווּ; וְתַמְשִׁלוּנִי, וְנִדְמֶה
"Kepada siapakah kamu hendak menyamakan AKU, hendak membandingkan dan mengumpamakan AKU, sehingga kami sama? (Yesaya 46: 5)
זִכְרוּ רִאשֹׁנוֹת, מֵעוֹלָם: כִּי אָנֹכִי אֵל וְאֵין עוֹד, אֱלֹהִים וְאֶפֶס כָּמוֹנִי
Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya AKUlah ALLAH dan tidak ada yang lain, AKUlah ALLAH dan tidak ada yang sama seperti AKU (Yesaya 46: 9)

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dan tidak ada satupun yang setara dengan diri-NYA(Al-Ikhlash:4)
Al-Qur’an sebagai kitab penyempurna ajaran terdahulu dengan tegas menampik tudingan adanya Trinitas yang diciptakan Paulus dan para pengikutnya, serta mengembalikan kaum yang tersesat oleh doktrin gereja ke ajaran Tauhid para Nabi terdahulu, yaitu menyembah hanya kepada satu Tuhan yang Esa dan tidak terbagi menjadi tiga, bahkan Al-Qur’an juga menghimbau para pengikut Nabi ‘Isa (Yesus) agar kembali mengikuti ajarannya yaitu menyembah ALLAH yang Esa.
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
"Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih putera Maryam," padahal Al Masih sendiri berkata, "Hai Bani Israil, sembahlah ALLAH Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH haramkan surga atasnya, dan tempatnya di neraka, dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang zalim."(Al-Maidah:72).

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلٰهٍ إِلَّا إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata, "Bahwasanya ALLAH salah satu dari tiga," padahal tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, sungguh orang-orang yang kafir di antara mereka yang ditimpa azab yang pedih."(Al Maidah:73)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
"Hai sekalian manusia, telah dijadikan kepadamu suatu perumpamaan, maka dengarlah perumpamaan itu. Sesungguhnya yang kamu seru selain ALLAH, mereka tidaklah sekali-kali dapat membuat lalat walaupun mereka hanya berhimpun untuk itu. Dan jika lalat itu merampas semua dari mereka, niscaya mereka tidak akan sanggup merebutnya dari lalat itu. (Inilah) kelemahan yang menuntut (si penyembah) dan yang dituntut (benda yang disembah)." (Al Hajj:73)

Kesaksian Al-Qur’an tentan ajaran Nabi ‘Isa AS:
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ
"Dan (‘Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah Kami beri karunia (kenabian) atasnya dan Kami menjadikannya sebagai teladan bagi Bani Israil." (Az Zuhkruf:59)
وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنكُم مَّلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ
Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. (Az Zuhkruf:60)
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah AKU (ALLAH). Inilah jalan yang lurus. (Az Zuhkruf:61)
وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Az Zuhkruf:62)
وَلَمَّا جَاءَ عِيسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُم بِالْحِكْمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُم بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
Dan tatkala ‘Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada ALLAH dan taatlah (kepada) ku(‘Isa)”. (Az Zuhkruf:63)
إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Sesungguhnya ALLAH Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah DIA, ini adalah jalan yang lurus. (Az Zuhkruf:64)

2 Responses to "Tuhan Dalam Naskah Kitab Suci dan Sejarah"

  1. Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

    ReplyDelete
  2. Ahmadiyah jelas bertentangan dengan agama Islam, saya secara pribadi kalau boleh jujur, Ahmadiyah memang sengaja dibentuk oleh Freemason (Illuminati) untuk memecah belah umat Islam.
    Sebenarnya untuk mengajak kembali, tidaklah perlu dengan kekerasan karena Islam memiliki step by step untuk mengembalikan mereka.
    Kekerasan malah menunjukkan kepada luar, bahwa Islam identik dengan kekerasan.
    Wallahu'alam

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih