Mencintai Hidup (True Story)

blogger templates
kisah kehidupan, cinta hidup
Sang Pena - Alhamdulillah, lagi dan lagi kesempatan yang mulia dalam hidup ini diberikan oleh Allah :) tak boleh kita sia-siakan kawan, barang sedetikpun.

Hmm, hari ini mau nulis apa ya? :D yaudah, begini saja. Beberapa jam yang lalu saya membaca tulisan bagus. Sebuah kisah nyata dari sahabat baru saya :) yang luar biasa semangatnya, semangat belajarnya. Oke, tidak berlama-lama ya, silahkan dibaca kisah ini. Based On True Story! semoga bermanfaat!

start!


Dulu aku pernah mengira, aku bukanlah anak dari orang tuaku, namun tika menatap senyum bunda dan ayah, aku kembali yakin bahwa aku adalah anak kandung mereka. Saat  diomeli, aq berpikir kembali, aku bukan anak ayah dan bunda, namun saat boneka beruang itu tiba,, aku berfikir lagi aku anak ayah dan bunda.Yah,, itu cara berfikirku saat berusia masih duduk di kelas 2 SD. Bergulirnya waktu aku berusia 19 tahun, kini saat nya fikiranku berubah, kini aku tau betapa ayah dan bunda menyayangiku. Senyum mereka, nasihat mereka, tak perlu kuterangkan sejauh mana kekhawatiran mereka saat gadis pertamanya tinggal jauh dari sisi mereka di Semarang.

Pernah merasakan rumah kebanjiran? atap bocor, dinding bocor,, dinding  bambu rumahku merembes air hujan, pintu rumah di serang air hujan juga.. dapur kecilku yang imut itu,, lebih parah lagi, sebagian atap terbang tak tau dimana aral melintang nya. Tubuhku yang kecil berukuran sekian centi meter ini menangis didepan kamar tidur keluarga yang hanya satu itu. tubuh kecilku keletihan setelah wara dan wiri mencoba menahan air yang masuk terjun dan meyapa rumahku bersilaturahmi. Hatiku berteriak diantara gemuruh petir, " ya allah kapan ayah dan bunda pulaaang?" ya aku sendiri, aku adalah penjaga rumah setelah pulang sekolah. Orang tuaku bukan petani, ayahku seorang guru di pondok pesantren, bundaku seorang pedagang kecil yang baru menjelajahi dunia perdagangan.

Aku terbangun di atas kursi (karna kasur keluargaku yang satu satunya bwasah), seolah ada di kapal yang dikelilingin ombak. Hujan tak sederas tadi, kini bundaku telah datang tak tau kapan, karna aku tak sengaja terlelap. Ternyata bunda masuk dengan jalan menjebol kunci pintu yang kapanpun siap di jebol para maling yang tadi aku kunci dan pintu kusumpal keset di bagian bawah yangdiintip oleh air hujan karna rumahku berhulu dataran rendah.Dan walaupun maling masuk, tak ada yang bisa di amankan oleh maling itu di rumahku,, he he mungkin yang paling berharga adalah tabungan ayamku,, yang berisi sekian juta keping logam.. tabungan gadis kecil.

Aku menatap wajah bunda yang sendu, ayah pun nampak sedih terdiam menatap gubuk kontrakanku ini di kunjungi air hujan dadakan,walau begitu  aku tak pernah sekalipun mendengar ayah dan bunda mengeluh.

Pertama kali hidup di dunia, kendaraan yang aku miliki ets,, ayahku miliki adalah motor odong odong yang wajib di engkol 99 kali baru hidup dan sekalinya hidup sekian menit kemudian akan mati di tengah jalan, tak heran hampir setiap pagi aku telat berngkat ke tk ku tercinta TK Aisiyah. Yang kemudian ayah membeli sepeda zaman  prasejarah,, he he pengganti motor antik, sedihnya aku berceloteh " sepeda apa ni yah,, jelek sekali" sambil memukul roda belakang nya,, tak tau perasaan ayah seperti apa, padahal ayah dengan bangga menunjukkan nya padaku, polosnya aku,, atau bodohnya aku,, karna ayah tak tega melihatku berjalan kaki sekian kilometer bersama ibu saat membeli minyak tanah.

Perlu kalian tau, ayah adalah laki laki yang pantang menyerah, bermuka tembok yang tak pernah malu untuk berjuang dari bawah, itu adalah ucapan bundaku. Bahkan sampai sekarang aku menilai ayah memang bermuka tembok saat berjuang menyekolahkan kami anak anaknya yang enam ini,,
banyak daftar mainan yang ingin kubeli, sudah ku sampaikan di telinga bunda dengan rengekkan. Bunda hanya tersenyum optimis dan berkata" putri berdo'a ya nak,, agar Allah memberi kemudahan rizki untuk ayah" dengan takzim aku menjawab "amiin",, dan tak lama aku bertanya lagi,, “sudah ada belum rizkinya? mau beli kapan mainannya?” masa kecilku yang menginginkan sepatu roda yang tak pernah terwujud hingga kini.Karna terlanjur besar malu ingin main sepatu roda lagi.

Pernah melihat bunda mu menangis? sakiiit sekali saat melihat bunda menangis karna di cerca oleh orang lain. Kau tau apakah bunda akan ikut marah marah padamu karna tidak membantunya? tentu saja tidak,, kulihat bunda hanya tersenyum kecil menenangkan tatapan mataku yang bertanya" ada apa dengan bunda?" Ternyata bunda punya hutang pada seseorang yang aku panggil bu rentenir, walaupun  bunda sudah melarangku mnyebutnya seperti itu.

Bunda pernah bercerita, dulu sempat aku lahir di tutupi baskom,, karna hujan deras saat malam dan atap rumah,.. lagi lagi tak mau kompromi!! ada bayi kecil seorang putri yang baru menatap dunia, bundaku tak memiliki benda lain yang lebih etis untuk melindungiku kecuali baskom itu.
Alhamdulillah aku masih hidup, karna tentunya bunda selalu memeriksa keadaanku, masih nafas atau tidak di dalam baskom. Dan sekian bulan saat aku mulai bisa berjalan aku menggunakan baju penjara hasil mengkreasi bahan sisa menjahit tetanggaku yang baik hati. Ia  menjaitkan baju untukku karna tak punya cukup pakaian, orang - orang bilang terlihat sepeerti pakaian orang di penjara karna warnanya belang- belang, wajar saja karna kombinasi kain perca (tapi zaman sekarang yang belangkan lebih seru he hee). Walau sebenarnya bunda sedih mendengarnya setidak nya itu lebih bak di banding aku tak mengenakan helai pakaian, seperti tarzan. Setidaknya ayah dan bundaku juga telah menjadikan kehidupanku lebih baik, bahkan jauh lebih baik di banding masa kecil ayah dan bundaku yang penuh perjuangan… dan bisa dikataan minim kasih saying.

Pulas pewarnaku bercecer tak beraturan. Ku lihat ayah sedang melukis sebuah rumah diantara kertas bergaris kotak persegi, rumah indah pikirku,, suatu hari lukisan itu nyata dihadapanku walau awal mulanya, hanya petakan tanah berumput tinggi menjulang. Ku tempati tak semegah yang sekarang.. he hee (ga megah deng biasa aja). Saat datang memijakkan kaki disana sama dengan rumah kontrakkan ku yang wassalamualaikum keadaannya.. bahkan ini tanpa atap genting, namun ada dinding kokoh beratap Corcoran J tak punya lemari baju, tak punya perabotan rumah yang indah, meja makan pun baru saja di buatkan ayah berdasarkan rumusan kayu balok yang tersisa dari membangun rumah. Yang sekian tahun kemudian akhirnya rumah ku beranjak meningkat menjulang ke atas dan berkeramik, beratap juga memiliki perabotan selayaknya rumah yang ada di film film yang aku tonton dulu di film Joshua oh Joshua.

Allah akan selalu memberikan rizki bagi hambanya yang berusaha, gemar menolong orang lain terutama dengan jalan shodaqoh. Masih ingatkah peristiwa tsunami Aceh 26 Desember ? dengan semangat perjuangan ayahanda pergi kesana menjadi relawan, sekitar 2 minggu lamanya tak  bersua. Jika di hitung kerugian waktu dan materi,  rasanya membiarkan ayah pergi ke Aceh, dengan uang pesawat pribadi tanpa bantun dari pihak penyalur ataupun yang lain yang tak murah bagi kami “rugi”.

Lalu di tinggal ayah tulang punggung keluarga sehingga hanya bunda yang menggantikan mencari rizki di pasar sehingga pendapatan berrkurang ‘rugi’ tapi janji Allah pasti. Disana ayahanda bertemu seorang relawan dari madinah, yang ternyata adalah bos dari sebuah yayasan perusahaan madinah munawwaroh yang tertarik pada kesungguhan ayah menolong warga Aceh. Yang kemudian ketika ayah akan kembali beliau membelikan ayah tiket pesawat gratis dan pesangon yang lumayan, juga tawaran bekerja di yayasan madinah yang bertegger di Jakarta yang sedang mencari tenaga kerja cabang daerah tempatku tinggal. Dari situlah kini ayah dapat membelikan kami mobil keluarga, menyekolahkanku di kebidanan walau tak semahal di kedokteran, juga dapat membeli sebidang atau beberapa bidang tanah lah bekal aku nanti kata bunda.

Dengan penuhkesyukuran aku senang pernah merasakan hidup susah karena disanalah aku memiliki cerita berbeda dari orang lain. Disanalah aku memiliki jiwa ingin berjung tak mau hidup miskin, dan kelak aku akan menjadi orang tua seperti ayah dan bunda, pantang menyerah selalu beramal ibadah mendahulukan Allah dari dunia dan seisinya,,,
Ayah.. Bunda.

Omelan & kemarahan tak lain adalah karna kesalahanku bukan keegoisanmu .Terima kasih atas perjuangan ayah dan bunda, sekarang aku bisa menatap duia ini tak terseok. Walaupun sekarang aku merasa aku sudah terlanjur memiliki materi, aku berkembang tidak terlalu mandiri ( belum cari kerja sendiri) sebagaimana seseorang yang aku kenal kedewasaannya, Namun dari sinilah aku memiliki pembelajaran menjadi ribadi yang selalu berusaha memberikan yang terbaik dari apa yang bisa  kuusahakan…. Walau sekarang aku masih menggantung pada Ayah dan Bunda.

Untuk jiwa- jiwa yang sudah mandiri dengan bekerja sambil kuliah,,, aku benar - benar iri dengan kerja keras kalian. Insya allah jenjang semester 2ku nanti, aku juga ingin belajar bekerja ‘mengajar di sebuah tpa impianku,, walau tak bergaji materi apapun, tapi aku yakin hatiku berbalas denga keindahan dunia akhirat J disnalah aku akan mengasah kedewasaanku untuk belajar bekerja J do’akan aku ya….

#Teruntuk seluruh manusia yang ingin maju… sukses menghadapi dunia dan akhirat..
SEMANGAT MAHASISWA …..!!!!!! ALLAHU AKBAR !!!!!


end.

Apakah kisahnya selesai? Belum kawan, kisahnya masih akan tetap berlanjut. Di depannya masih banyak kisah besar yang menanti untuk ditaklukan! :)

Bahkan dirinya yang kecil seperti itu mampu bertahan dan  menang, tidakkah kita malu? :(

#Malam ini, 19 Desember 2012.

Editor in Chief
@sang_pena (True

2 Responses to "Mencintai Hidup (True Story)"

  1. masih bisakah menjadi guru dn murid:)
    mungkin sdah waktunya aq mempelajari hidup ini dri penglihatan dn pendengaranku sendiri,,

    msh menatap birunya langit:)
    suatu saat hujan pasti mendatangkan pelangii,,
    benarkan?

    *semangat perjuangan pak,,

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih