Berprasangka Baik (Repost Jamil Azzaini)

blogger templates
positif thinking
Sang Pena - Dua bulan terakhir ini hampir setiap hari saya memberikan seminar atau training, tak ada waktu untuk datang ke kantor. Alhamdulillah, kemarin ada jeda satu hari, jadwal training kosong. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk menengok kantor saya yang ada di Bogor. Rupanya di kantor banyak karyawan baru.
Seperti biasa, bila lama tak ke kantor aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah rapat. Apalagi mulai hari ini hingga awal bulan Ramadhan setiap hari saya ada jadwal training di beberapa kota. Yang membuat saya bangga, begitu terdengar adzan, anak-anak muda di kantor saya bergegas berwudhu dan sholat berjamaah.
Melihat semangat mereka bersegera menyambut panggilan shalat saya teringat nasihat dari guru saya. Katanya, “Bila kita berjumpa dengan orang yang lebih muda berprasangka baiklah bahwa ia masih belum banyak dosa seperti kita. Sedangkan bila kita berjumpa dengan orang yang lebih tua, berprasangka baiklah bahwa ia lebih banyak amal dan pengalaman hidupnya dibandingkan kita.”
Saya termasuk sangat iri kepada anak muda, khususnya kepada mereka yang dosanya tidak seberapa tetapi kebaikannya melebihi saya yang sudah lebih tua. Selain iri, saya terkadang sangat malu dengan mereka. Kok bisa? Ya, mereka lebih “sempurna” dibandingkan saya tetapi mau mendengarkan nasihat atau inspirasi dari saya yang masih perlu banyak berbenah ini.
Ketika berjumpa dengan orang kaya, kita pun perlu berbaik sangka bahwa sedekahnya sudah jauh lebih banyak dibandingkan kita. Sementara bila berjumpa dengan orang miskin, berbaiksangkalah bahwa mereka jauh lebih sabar dibandingkan kita. Bila kita yang diuji dengan kemiskinan, boleh jadi kita tidak sesabar mereka.
Berprasangka baiklah kepada orang-orang yang baik. Adapun kepada orang-orang yang sering berdusta, tentu kita harus waspada. Kepada penipu, pembohong, koruptor dan ahli maksiat yang belum taubat tentu kita tak boleh mudah percaya.
Berprasangka baik itu pada orang dan tempat yang tepat. Tentu bila di tengah malam ada orang yang diam-diam masuk ke rumah Anda maka Anda tak seharusnya berprasangka baik. Begitupula bila ada orang yang baru Anda kenal kemudian menawarkan bisnis dengan keuntungan yang menggiurkan, tentu Anda tak boleh berbaiksangka.
Kepada Sang Pencipta kita wajib selalu berbaik sangka, tetapi kepada manusia, kita tidak harus selalu berbaik sangka. Sepakat?
Salam SuksesMulia!
Semarang, 27 Juni 2013

0 Response to "Berprasangka Baik (Repost Jamil Azzaini)"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih