Menjadi Penulis Yang Baik

blogger templates
islamiccalligraphy.bullgallery.com
Sang Pena - Menjadi penulis itu tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semudah yang terlihat atau yang tersirat ketika kita membaca karya-karya besar – apalagi karya kecil seperti saya ini. Tidak sekedar kemampuan merangkai kata agar nyaman dibaca, tetapi juga butuh di dalamnya perpaduan ilmu dan pengalaman hidup. Ilmu yang kita peroleh dari membaca – belajar. Lalu pengalaman, yang kemudian menjadi penyedap dan penguat agar “cita rasa” tulisan kita semakin lezat.

Terkadang kita mudah untuk menulis, tetapi sulit untuk menjadi eksekutor atas tulisan kita tersebut. Itu adalah salah satu hambatan yang pasti akan dialami oleh setiap penulis – tak terkecuali saya. Penulis bukan orang yang pasti pintar, malahan setahu saya, penulis kebanyakan adalah seorang pembelajar. Buku – apapun – adalah kawan wajib bagi seorang penulis. Dari bukulah penulis belajar, untuk kemudian mencetuskan gagasan baru. Dari buku penulis membaca – ngaweruh ilmu – untuk kemudian diolah menjadi wacana baru.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Itu yang selalu saya pahami dan amalkan ketika memilih menulis untuk menjadi bagian dari kebutuhan hidup saya. Mustahil rasanya menjadi penulis yang baik ketika kita menolak untuk menjadi pembaca yang baik. Meskipun kita bisa saja menjadi pembaca yang baik tanpa harus menulis. Hal tersebut tidak berlaku untuk penulis yang baik. Bisa runyam isi tulisan ketika kita menulis artikel aktual tanpa pernah membaca berita aktual. 

Orang bijak mengatakan, pengalaman berkesan adalah pengalaman pertama. Saya ingat betul dulu bersentuhan dengan dunia tulis kala ada sayembara penulisan kisah inspiratif aktivis IPM yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (OKP Terbaik Tahun 2013). Iseng saja sebenarnya, saya hanya niatkan belajar untuk menulis cerita pendek. Eeh, tak disangka malah lolos dan dibukukan. Senang sekali rasanya waktu itu bisa menjadi kontributor sebuah buku yang dicetak nasional.  

Pengalaman lain yang tak kalah menarik adalah perjuangan untuk tembus kolom Debat Mahasiswa Suara Merdeka. Saat itu saya masih ingat betul baru kuliah semester II. Masih awam sekali dengan penulisan opini dan semacamnya. Apalagi waktu itu, bacaan saya lebih banyak yang ber-genre sastra (novel, puisi, cerpen) daripada tulisan ilmiah. 

Namun, karena kepepet akhirnya saya bertekad keras untuk terus mencoba. Pengiriman tulisan pertama gagal, demikian seterusnya sampai tulisan yang ke enam. Sampai akhirnya, tulisan saya yang ke tujuh, masih ingat betul berjudul Perpeloncoan, Tidak Relevan tapi Dibutuhkan, dimuat. Sebagai mahasiswa yang masih bau kencur, rasanya senang sekali bisa melihat wajah saya yang acak-acakan kala itu nampang di koran yang familiar bagi masyarakat Jawa Tengah. Alhamdulillah, sujud syukur, bahagia. 

Nah, pembaca yang terhormat, dari sinilah skenario Allah direncanakan dengan baik dan sempurna. Bukankah memang Dia lah yang Maha Merencanakan? Akhirnya, sejak saat itu saya mulai konsen dengan dunia tulis, berusaha istiqomah untuk terus menulis. Perlahan satu demi satu tulisan saya muncul di media. Satu demi satu pula saya mengikuti berbagai kompetisi menulis. Awalnya memang berasa harus puasa, tapi “berbuka” dari puasa yang panjang sungguh nikmat tak terperi. Kini beberapa jejak tulisan saya telah terabadikan, termasuk di blog ini dan di link ini.  

Pelajaran yang penting untuk dicatat bagi seorang penulis – atau siapapun yang berminat menjadi penulis adalah: istiqomah dan amalkanlah. Kita menulis kebaikan, maka wajiblah hukumnya kita untuk melaksanakan. Kita sampaikan kebenaran, maka sepantasnya pula kita tegak di jalan yang benar. 

Menulis hanyalah satu dari sekian banyak jalan bagi kita untuk menyampaikan perubahan. Berdakwahpun bisa kita lakukan dengan media tulisan, asal kita paham rumus pokoknya: 

“Tulis dan kerjakan – kerjakan dan tuliskan”

Jangan sampai kita hanya menulis, tanpa pernah tahu – apalagi tak mau tahu dengan apa yang kita tulis. Jadilah penulis yang mengerti apa yang dituliskan, karena kelak kita pasti juga akan mempertanggungjawabkan apa yang kita tuliskan. 

Semoga siap ya, istiqomah menulis dan mengamalkan? ^_^

Selamat istirahat, InsyaAllah anda semua terlahir untuk menjadi penulis hebat! :)

Salam Sukses!

Ps: Terima kasih kepada mas Ali Khamdi, semoga Allah cukupkan nikmat dunia akhirat buat njenengan, beliau yang “menjodohkan” saya dengan menulis :)

Ditulis di Semarang, dibaca oleh siapa sadja, dimana sadja!
11:01 PM | 11 Nopember 2013

4 Responses to "Menjadi Penulis Yang Baik"

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih