Bulan Untuk Bapak

blogger templates
Sang Pena - Sejarah selalu menyisakan kesan ketika dikenang. Sekalipun masa telah membentangkan jarak yang berkepanjangan antara masa lalu dan masa depan. Sebenarnya antara keduanya tidak pernah tersekat jarak. Selama ingatan masih kita simpan rapi di dalam ingatan. (alefiko)

Cerpen. Saya memang cukup lemah di bidang yang satu ini, tapi bukan berarti saya tidak mencoba untuk menulisnya. Sudah beberapa kali kok :) Tapi, ya itu, selalu kurang puas jika harus membaca karya sendiri.Walaupun demikian, ketidakpuasan itu adalah bukti dan sekaligus anjuran kepada diri pribadi untuk terus belajar. Menulis lagi tentunya.

Nah, berikut ini adalah cerpen yang pernah saya tulis beberapa tahun silam. Berharap masih bisa dibaca sekalipun jelek, berharap masih bisa dikritik sekalipun pembaca hanya penikmat tulisan. Yuk, silakan :)




“Bulan” untuk Bapak

Seperti hari-hari yang lain, minggu-minggu yang lain, bulan-bulan yang lain, semenjak aku kelas 3 SD, hingga detik ini, hampir setiap sore setelah shalat Ashar aku akan berusaha menyempatkan datang ke tempat ini. Sebuah gubuk, agak reyot, di belakang rumah tepat menghadap sebuah sungai di desa kecilku. Gubuk yang di dalamnya telah kuabadikan begitu banyak kenangan. Di gubuk ini pula, dulu bapak hampir setiap hari menceritakan masa mudanya, tentang pertemuan tak terduganya dengan ibuku, tentang kakek yang hilang pada masa PKI, dan tentang kearifan hidup dari beliau yang ku pendam dalam-dalam di dasar kalbuku. Hingga kini, dan selamanya akan tetap berada di sana.
Sore ini, hujan telah reda dan telah undur diri bersama angin. Sebenarnya ini juga merupakan hujan pertama di musim penghujan, aku paham betul dari aroma ampo[1] yang begitu semerbak menyejukkan yang telah kukenal bertahun-tahun hidup di sini. Hujan pertama yang bagiku begitu menentramkan setelah panas berkepanjangan, tentu saja. Kadang aku berfikir hujan tadi sebagai obat meradangnya bumi ini atas ulah manusia yang sak senengé déwé[2], yang mengeksploitasi sumber daya, mengaduk-aduk isi bumi untuk kepentingan perut segelintir orang saja, bukan untuk kepentingan anak-cucu ibu pertiwi kelak. Andai bisa bicara, mungkin bumi akan melakukan jumpa pers, batinku sesekali. Atau mungkin memanggil sekutu untuk melawan manusia seperti di film-film. Ah sudahlah, kiranya aku terlalu banyak menonton film fiksi.

Aku berjalan tanpa alas kaki menuju gubuk. Berjalan pelan sambil menikmati detik-detik yang mengingatkanku pada sosok bapak, perasaan anak kepada bapak yang dirindukan, perasaan yang masih butuh perlindungan, butuh kasih sayang. Rasanya aneh saja berjalan sendirian di sini. Biasanya beliaulah yang menjadi rekan seperjalanan menuju gubuk tersebut, sepanjang hidupnya. Kini tinggal diriku yang menjadi pengunjung setia, mungkin suatu saat aku akan mengajak anak-anakku ke sini, menceritakan padanya tentang Sang Kakek yang gagah berani, tentang perjuangan hidup untuk keluarganya. Tapi, ah mungkin itu terlalu jauh. Aku masih belum berfikir kesana sebelum studi Masterku selesai. 

Aku semakin dekat, gubuk ini tak seperti dulu lagi. Beberapa tiangnya terlihat mulai miring, menyalahi aturan konstruksi. Atapnya, anyaman alang-alang yang dulu rapi dan rapat (dulu kubuat bersama bapak, setelah seharian mencari alang-alang di hutan perbatasan Ngawi) kini tak lebih dari bambu tua yang tersisa, itupun kelihatan rapuh sekali. Akhirnya sampai, ku sentuhkan jari-jemariku di tiang terdekat, aku merinding, ku pandang lagi sekeliling gubuk ini, hampir tak ada yang berubah. Di sebelah kanan, agak ke kiri sedikit sebuah pohon mangga yang sudah cukup umur sampai enggan berbuah manis. Biasanya setelah hujan akan banyak burung prenjak yang menghabiskan sorenya di sana, diujung tertinggi, saling berebut perhatian. Tak berbeda dengan sore ini, saat kutengadahkan ke atas, beberapa prenjak memang sedang dimabuk cinta, atau mungkin mereka juga merindukan kedatanganku disini setelah lama sekali penantian atas diriku, dan inilah reuni kami, lintas generasi makhluk Allah. Homo Sapiens – Prenjak. 

Di sebelah kiri gubuk, di sanalah pekarangan kami yang dulu dijual untuk pengobatan bapak. Luasnya tak seberapa, namun cukup untuk membantu meringankan beban kami saat itu, tapi kini hanya tanah tandus tak terawat, aku bahkan tak pernah tahu siapa pembelinya. Dan di depan, tepat di depanku saat ini, terlihat dengan begitu anggun, meliuk-liuk sebuah sungai mirip “naga berwarna coklat” (karena air yang keruh, tentu saja) yang sangat terkenal dengan diciptakannya lagu untuk sungai ini oleh Alm. Gesang, “Bengawan Solo”.

Aku duduk, menurunkan tas punggungku, terdengar bunyi berderit. Aku hanya tersenyum simpul, mungkin beban tubuhku saat ini sudah jauh melampaui beban terakhir saat aku duduk di sini, beberapa tahun yang lalu. 

Seperti tahun-tahun dan hari yang lalu, jika aku ke gubug ini aku akan selalu menyempatkan diri untuk menulis sesuatu, apapun. Karena menurut bapak perintah Iqra’ dalam Al Qur’an tak hanya untuk membaca, melainkan lebih luas lagi, termasuk menulis dan beramal. Dan bagiku, ucapan-ucapan beliau adalah permata yang harus dilaksanakan selain itu di sinilah tempat yang memberiku inspirasi untuk selalu menulis. Aku keluarkan partner favorit untuk menulis dari dalam tas punggungku tadi, sebuah Laptop. Merogoh dompet kecilku, lalu ku ambil KTP beliau yang kusimpan rapi, ku pandang wajah itu dalam-dalam, wajah yang lelah dan bertanggung jawab semasa hidupnya, tak terasa titik-titik kecil dari mata ini mendesak keluar, tak bisa kutahan. Ku pejamkan mata sejenak, lalu sekelebat wajah beliau dengan senyumnya mendadak muncul di kepalaku. Aku rindu, benar-benar rindu. Tanganku mulai mengetik, sebuah puisi.

 Bersama anak panah
Yang meluncur ke bulan dari kedipan jiwaku
Ku sampaikan bait rindu akan hadirmu
Lewat kata yang tak terucap
Lewat hati yang teramat sepi

Beriring bintang dalam kemukus
Tentang bulan, bagimu yang benderang
Matahari bak lentera pertiwi

Demi malam yang menelan siang
Demi pagi yang merindukan senja
Sungguh bulan adalah karunia

Karena malam,
Engkau ajarkan aku tentang bulan
Tentang waktu dan kebijaksanaan

Demi waktu
Demi raja batara kala yang baru
Buatkan aku hari yang baru
Agar tidak ada lagi nikmat-Mu yang kudustakan

Kemudian aku menyimpannya dengan sebuah nama “Bulan” untuk Bapak. Semoga pilihan judul ini tidak salah, inilah belajar, begitu aku selalu berpedoman. 

Aku hampir lupa kalau hari sudah semakin sore, sudah saatnya aku kembali. Aku harus kembali lusa karena senin depan sudah masuk lagi. Selamat tinggal, suatu saat aku pasti kembali ke sini, pasti. Seperti kepastian akan datangnya kematian, seperti itulah aku akan selalu datang menujumu. 

Baru saja berjalan beberapa langkah, HPku bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang belum kusimpan. Isinya “Jika kamu dapat memimpikannya, kamu dapat mewujudkannya – Walt Disney”. Aku hanya tersenyum geli membacanya, tapi tentu saja membenarkan. Sambil menggeleng aku menengok sekali lagi ke belakang, tersenyum, gubuk yang luar biasa. Dalam setiap langkah yang kuayunkan berikutnya, semua terasa ringan. Aku pasti bisa.



[1] Tanah (Jawa)
[2] Sekehendak hati

Cerpen ini selesai ditulis pada tanggal 14 Juni 2011

Repost di Blog Sang Pena
17 Februari 2014 - Setelah tiga tahun tersimpan rapi di memori

Dibaca dimana sadja, boleh.

0 Response to "Bulan Untuk Bapak"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih