Kenapa Harus Menulis?

blogger templates
sang pena, kenapa menulis
Sang Pena - Seringkali pertanyaan ini muncul saat membuka dashboard Blogger, "kenapa saya harus menulis?", "buat apa menulis?", "apa untungnya menjadi penulis?" Bukan hanya dari saya pribadi, pertanyaan serupa sering juga dilontarkan oleh banyak kolega (teman) dalam keseharian. Tak banyak yang saya jawab dengan serius, karena memang mereka bukan penulis. Mereka hanya "menyaru" menjadi penulis saat ditugaskan, dan kembali menjadi pembaca saat tugas itu "klimaks". Selesai.

Namun terkadang jawaban serius juga saya berikan, saat yang bertanya benar-benar tergelitik hatinya untuk mengerti alasan saya menulis. Dan berhubung hari ini saya akan curhat menulis dengan beberapa aktivis di kampus, maka bolehlah note ini untuk dijadikan bacaan di awal pelatihan.

Dalam blog yang sudah berumur hampir empat tahun ini, kurang lebih ada 500 lebih tulisan, baik yang original maupun saduran (re-post) dari beberapa sumber. Ada yang kisah nyata keseharian, ada yang puisi, ada yang opini akan sebuah keadaan di masyarakat, sungguh beragam isinya. Ada empat tema besar dalam blog ini: Islam, Sastra, Sains dan Teknologi. Keempatnya adalah ketertarikan paling besar saya dalam belajar, sekalipun banyak juga tema yang lain.

Bagi saya pribadi, menulis adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh manusia berakal, mengapa? karena ia berakal, sebongkah otak yang menjadikannya berbeda. Jika adanya akal tersebut tidak pernah melahirkan sebuah produk pemikiran bernama tulisan, maka tidak ada bedanya manusia dengan binatang. Tidak ada bedanya dengan binatang? ya, tidak ada bedanya.

Lihatlah beberapa petikan luar biasa berikut ini:  

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah" (Pram).
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” (Pram)
Kita boleh menafsirkan apapun tentang petikan di atas, tapi satu garis besar yang bisa ditarik adalah, kita harus menulis, tanpa nanti dan tanpa tapi, karena itu yang MEMBEDAKAN.

Pernahkah kita bertanya, kenapa di tugas akhir kuliah baik di tingkat sarjana hingga gelar doktor selalu mensyaratkan produk pemikiran dalam bentuk tulisan? Skripsi, Tesis, Desertasi? Jawabannya, karena pada akhirnya memang dari tulisan itulah kita dinilai, seberapa jauh dan mampu kita mengejawantahkan sebuah isi pemikiran untuk dituangkan dalam tulisan, untuk diwariskan ke generasi berikutnya.

Bukankah kenyataannya setiap orang (kemungkinan besar) pasti lulus untuk ujian praktikal? Namun, kenapa masih harus ada research (menulis). Sekali lagi, karena dengan menulis sajalah ia dapat mewariskan sebuah pengetahuan, tak terbatas waktu dan tentu saja melampaui zaman.

Di dalam Al Qur'an yang merupakan pedoman pokok umat Islam, memang tidak banyak perintah langsung untuk menulis, namun ingatkah kita bahwa perintah pertama adalah iqra'? Membaca. Bagaimana mungkin kita membaca jika tidak ada yang dibaca? (tulisan). Bagaimana mungkin akan ada tulisan jika tidak ada yang menulis? Maka dari itu menulislah!

Agama Islam agama yang demikian tingginya memuliakan ilmu, sampai-sampai di dalam surat Al-Mujadalah: 11 disebutkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu (dan beriman) beberapa derajat. Bagaimana cara kita berilmu? membaca lalu menulis, menulis dan membaca lagi, demikian seterusnya.

Tulisan saya memang tak selalunya baik, dan tak selamanya benar, malah ada yang bilang sampah. Toh, saya masih tetap saja menulis, biar kita tuli atas sumpah serapah mereka yang penting kita tetap harus mencoba. Menulis tidak harus bagus, tapi kalau pengen bagus harus tetap menulis.

Menulis yuk, mencoba dari sekarang lebih baik, daripada tidak pernah mencoba sama sekali dan menjadi bunga penyesalan di akhir usia senja kita.

Salam sukses, dan berlimpah keberkahan.

Semarang 19 Mei 2014
Rumah Bisnis Kinijaya | 8:28 am

2 Responses to "Kenapa Harus Menulis?"

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih