Dia Bernama "Perempuan"

blogger templates
 
ibu muslimah, perempuan, sang pena
picsource: khazanah.net

sangpena.com | Perempuan, umat manusia menyebutnya demikian.

Sungguh aku bertanya,
Apa sebenarnya bahan dasar dirimu?
Sehingga begitu kuat untuk berdiri kokoh, menopang dan berjuang.
Begitu kokoh ketika tulang belakangmu menjadi tempat bermanja anak-anakmu, yang banyak.
Begitu kuat saat lengan yang tampak lembut itu, mengangkat beban yang berat.

Perempuan,
Ataukah jemarimu terbuat dari stainless steel? Bahan yang familiar di jam gadungan, tangan-tangan kami.
Jemarimu begitu elastis, lembut di satu sisi, dan sangat cekatan untuk urusan rumah bagi suami dan anakmu.
Apa bahan jemarimu?

Perempuan,
Berapa tera kapasitas RAM di lembut kepalamu itu? Hingga dalam tiap sibuk rapat dan urusan pribadimu, masih tersemat pikiran, menu apa untuk makan siang keluargamu.

Perempuan,
Adakah sumber energi tak terbatas dalam tubuh mungilmu itu?
Sungguh diri ini tak habis pikir, daya tahan seperti apa yang menjadikanmu sekuat itu.
Bangunmu paling awal, dan tidurmu paling akhir, begitu seterusnya sepanjang hidupmu.

Perempuan,
Jika kasih adalah lautan, mungkin engkaulah mata air yang menjadikannya tidak pernah kering sepanjang masa. Mengalirkan kasih suci, tak bertepi, tak terbatas.

Perempuan,
Barangkali waktu akan berbisik kepadamu, membawa keriput itu menghampirimu. Tapi, tak perlu malu atau meminum kosmetik bernama racun itu untuk mengencangkan kulitmu.Sungguh, lekuk renta keriput kulitmu, adalah saksi tahun-tahun emas yang pernah engkau baktikan untuk keluarga terbaikmu.

Mungkin berjalanmu tak akan lagi tegak, ribuan jam sudah engkau berikan untuk keluargamu, tak terhitung lagi senyuman dengan kerlingan mata yang meneduhkan hati itu.

Langkahmu mungkin akan pelan, di masa yang lalu engkau adalah perempuan luar biasa. Engkau bisa mengerjakan empat-lima hal dalam sekali jalan. Selalu tersenyum dan berkata kepadaku, "aku baik-baik saja" sambil tersenyum penuh arti.

Perempuan,
Apa arti rumah tangga dan kehidupan ini tanpa keberadaan kalian? Rumah tidak akan berfungsi sebagai rumah saat kalian melepaskan kodrat kalian sebagai perempuan.

Perempuan,
Berbahagialah, kalian layak untuk bahagia!

#untuk semua perempuan dan semua ibu, terkhusus ibu saya, yang berjuang sendirian membesarkan keempat anaknya, menjadi sebaik-baik manusia.

Dan, untuk dia yang akan menjadi perempuan pemilik tulang punggung ini. Kelak tulisan ini akan mengingatkan :)

Semarang, 5 Agustus 2014 | 2:23 pm
Hangat sang surya siang ini

5 Responses to "Dia Bernama "Perempuan""

  1. Keren!
    Sedikit banyak mengingatkanku untuk lebih menghormati seorang wanitan yang siang ini sedang sibuk mengerjakan berbagai proposal dan dokumen penjualan baja baik domestik ataupun luar negeri.
    sore nanti, dalam lelahnyapun dia akan tetap bergelut sendiri di dapur hingga hari benar-benar menjadi malam.
    keesokan paginya, sarapan sdh tersaji lengkap di meja makan tanpa menunggu aba-aba.
    Mamaku, seorang single parent yang kuharap selalu dilindungi-Nya dan berumur panjang.
    Someday, I'll make you proud, Mom.

    ReplyDelete
  2. :) itulah wanita dan ketangguhannya ..

    ReplyDelete
  3. Untuknya wanita yang paling berjasa di hidupku dan adik-adik ku :)

    ReplyDelete
  4. Terima kasih ya semuanya, sudah berkenan berkunjung :)

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih