Motivasi: Aku Menikahimu karena Allah

blogger templates
Aku Menikahimu karena Allah
sangpena.com - Aku Menikahimu Karena Allah | Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku  rasakan justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara  yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang  paling keras menentang perkawinanku. (Baca juga: Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan)

Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah  sama 'buntelan karung hitam' itu ....?!?" Duh......, hatiku sempat  kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut 'buntelan karung hitam'.

"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis  hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat  kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu  lagi.

"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan  Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?" Kali ini aku  terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat  tersinggung mendengar ucapanku.

"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. Baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan  dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau  bawa perempuan itu ke rumah ini !!"

 DEGG !!!!
****

"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi  Ismail memberi semangat padaku.

'Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan  mas kawin seperangkat alat sholat tunai !"

Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah. "Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah  dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."

****
Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam  hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

"Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di cek kapan  De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi  disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah  meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan  Qur'an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.

"Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya.  Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam.  Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beriisyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.

Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku 'tidak  menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

 "Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak  menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan  yang banyak untuk Abang.
Seperti keberkahan yang Allah limpahkan  kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia  sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah  yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama  pernikahan mereka,

" ... Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan).  Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena  mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanyakebaikan yang banyak."
(QS An-Nisa:19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air  mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi  seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan  kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai  dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam  dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih  menyisakan segumpal ragu.

"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh...  saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.

"Tidak...De'. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.  Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika  seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.

****
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait  do'a kubentangkan pada Nya.

"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat  mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri  karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi  saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan  kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"

Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah  sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya.

 "...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah  tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana  mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat  cintanya pada Allah ..."
(QS. al-Baqarah:165)

(Dikutip dari : Majalah Ishlah no 37/tahun III 1995, judul asli :  MALAM PERTAMA DENGAN BIDADARI SURGAKU)

0 Response to "Motivasi: Aku Menikahimu karena Allah"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih