Mahasiswa, Lokomotif Gerakan Perubahan

blogger templates
Umumnya orang Indonesia itu aneh. Ketika Mahasiswa melakukan aksi, kemungkinan dikatakan sebagai tindakan anarkis cukup besar. Sedangkan ketika mahasiswa berdiam diri di lingkungan kampus dengan segala formalitasnya, kemungkinan dikatakan cuma bisa ngomong juga tidak kalah besar. Nah, inilah salah satu akibat dari kesalahan sistem di Indonesia, yang berlangsung secara turun-temurun bahwa imej yang melekat pada diri seorang mahasiswa hanyalah sosok konsumtif-kapitalis, sehingga apapun yang dilakukan berpeluang mendapat respon kurang baik dari masyarakat.

Jika sedikit flashback, sejarah sebenarnya telah mencatat kontribusi gerakan Mahasiswa yang begitu banyak, bahkan karena terlalu banyaknya, prestasi ini sering terlupakan. Diawali pada tahun 1966, menghasilkan TRITURA ( Tri Tuntutan Rakyat) yang dideklarasikan tepat pada Hari Kebangkitan Mahasiswa Indonesia, 10 juni 1966. Kemudian dipungkasi pada tahun 1998, ketika gerakan yang dilakukan mahasiswa secara nasional ini, mampu menggulingkan Presiden Soeharto. Tentu tidak bijak jika mahasiswa hanya di katakan cuma bisa bicara, tentu menilik pada kejadian-kejadian di atas. Pernyataan ini sekaligus pembelaan untuk mahasiswa se-Indonesia.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, sudahkah gerakan mahasiswa kekinian mampu memberikan kontribusinya untuk masyarakat, bangsa, dan negara? Belum! Nah, inilah yang menjadi tugas kita selaku generasi terpelajar dan pemimpin di masa mendatang. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan.
Pertama, membentuk komunitas di luar aktivitas kemahasiswaan, komunitas ini yang mewadahi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan minatnya di masyarakat sesuai dengan hal-hal yang disukai.

Kedua, optimalisasi fungsi UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sebagai gerakan internal mahasiswa kampus, hal ini mengingat bahwa kebanyakan UKM yang tersedia saat ini belum mewadahi seluruh mahasiswa atau dengan kata lain kurang diminati dengan berbagai alasan. Dengan pengelolaan yang baik serta bekerja sama langsung dengan sebuah LSM (misal membentuk MoU), akan memungkinkan mahasiswa untuk tertarik sehingga hasilnya selain memiliki keilmuan, mahasiswa juga memiliki softskill lain untuk diaplikasikan langsung dalam keseharian.

Terakhir, semua itu bisa terlaksana jika ada sinergi dari mahasiswa, serta masyarakat, dan tentu saja usaha yang konsisten dan terus-menerus. Mahasiswa adalah lokomotif gerakan perubahan menuju lebih baik, mulai dari kampus kemudian meluas ke masyarakat. Pasti bisa!

0 Response to "Mahasiswa, Lokomotif Gerakan Perubahan"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih