Pendidikan Berbasis Wirausaha

blogger templates
Sang Pena - Opini Pendidikan - :) Mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan hingga bangku perguruan tinggi adalah sebuah karunia luar biasa yang patut disyukuri. Tidak sedikit saudara kita yang jangankan untuk bersekolah, pun membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari masih kesulitan. Padahal, pendidikan adalah salah satu pilar yang menyokong keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. Lalu, bagaimana mungkin bangsa ini maju jika pendidikan tidak terjangkau oleh semua elemen masyarakat?
Pendidikan, bagaimanapun bentuknya adalah hak setiap warga negara. Pendidikan tidak dimiliki oleh sekelompok golongan, sekelompok masyarakat berkecukupan, atau mereka yang memiliki kekuasaan. Sehingga naif sekali ketika banyak pihak menggembar-gemborkan pendidikan berkualitas tetapi tidak dibarengi dengan pemerataan fasilitas dan infrastruktur pendukung.
Pendidikan, idealnya semakin baik kualitasnya akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Namun, kenyataan yang terjadi justru tidak demikian. Banyak yang tidak mendapatkan status kehidupan lebih baik sekalipun pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Bahkan ada yang mendapatkan pekerjaan jauh dari bidang ilmu yang ditekuni semasa belajar. Tentu ini menjadi masalah ketika bekerja, karena ketidak sesuaian bidang akan mempengaruhi kinerja dari pekerjaan tersebut.
Perlu diketahui bersama, hingga saat ini lebih dari sejuta pengangguran terdidik masih menunggu untuk sekedar memperoleh pekerjaan. Padahal banyak dari mereka pernah dididik di berbagai institusi pendidikan yang namanya ‘besar’. Lalu, apa yang salah? Sedangkan di sisi lain banyak pihak yang memiliki asumsi bahwa semakin bagus kualitas perguruan tinggi, maka akan semakin bagus pula taraf hidup yang bagus pula.
Secara pribadi, saya menganggap salah anggapan tersebut. Sekalipun kualitas institusi pendidikan memang memiliki pengaruh terhadap motivasi untuk belajar. Saya menyadari sejak awal bahwa yang dibutuhkan negara ini di masa mendatang bukan sebatas karyawan (employee). Tapi lebih dari itu, negara ini membutuhkan lebih banyak inovator, wirausahawan kreatif (entrepreneur) dari kalangan muda terdidik.
Setidaknya, dibutuhkan entrepreneur muda sebanyak 2% dari total jumlah penduduk agar negara ini mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Sedangkan saat ini, ketika tulisan ini ditulis jumlah entrepreneur di Negara kita belum mencapai angka 1%. Angka yang sebenarnya kecil untuk diraih, tetapi sulit karena mindset kebanyakan generasi muda saat ini yang lebih memilih mencari aman, ketimbang menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Tanah air kita, bisa dikatakan adalah surga bagi industri. Populasi 240 juta jiwa tentulah sebuah pasar yang begitu menggiurkan. Begitu menjanjikan nilai materi bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Belum lagi tidak adanya regulasi ketat seperti negara lain, yang mengakibatkan banyak industri asing berbondong-bondong mendirikan usahanya di Indonesia. Lalu, kemana nasib kita sebagai penduduk pribumi? Ya, kita hanya ditempatkan sebagai pegawai, tak lebih.
Pendidikan Wirausaha
Di negara ini, riskan jika mengharapkan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan. Apalagi 240 juta penduduk bukan angka yang kecil. Dan kebanyakan dari kita, mahasiswa, termasuk dalam angka 240 juta tersebut yang setiap tahunnya lebih memilih antre berjam-jam ketimbang menjadi pemilik atau pengusaha yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Maka, tidak mengeherankan jika beberapa tahun mendatang banyak sarjana yang bahkan pekerjaannya tidak lebih baik dari yang tidak sekolah.
Gambaran di atas akan benar-benar terjadi. Pasti terjadi jika hingga detik ini Pendidikan hanya sebatas normatif, tidak disesuaikan dengan perkembangan zaman yang begitu kompleks permasalahannya. Menanamkan keahlian selain di bidang pendidikan sangat diperlukan jika ingin pendidikan tidak hanya melahirkan pegawai-pegawai terdidik, tetapi juga wirausahawan muda kreatif.
Dalam konteks pendidikan, kita mengenal adanya materi kewirausahaan. Sebuah materi yang seharusnya mampu memberikan gambaran tentang mindset menjadi seorang wirausaha ke depan, bukan malah sebatas menjelaskan pengertian apa itu wirausaha. Memang bukan rahasia lagi bahwa salah satu kesalahan paling mendasar ketika kebanyakan tenaga pendidik menyampaikan materi adalah mereka mengajar berdasarkan tekstual, bukan mendidik sesuai kontekstual-aktual dari materi tersebut. Akibatnya, pengetahuan siswa didik juga terbatas pada teks. Hemat penulis, diperlukan re-branding mindset di kalangan pendidik agar ada semangat yang masif di dalam menyampaikan ilmu yakni secara kontekstual – aktual.
Terakhir, momen Hari Pendidikan Nasional ini harus bisa dijadikan ujung tombak dimulainya kembali penanaman nilai-nilai wirausaha ke dalam ruh Pendidikan. Negara ini benar-benar membutuhkan wirausahawan yang lebih banyak ketimbang pegawai. Maka, mari bersama-sama memulai impian besar tersebut dari sekarang. Selamatkan masa depan bangsa ini dari gempuran industri asing, dengan menanamkan kembali semangat berwirausaha sejak dini. Langkah pertama yang benar akan memulai langkah besar lain di kemudian hari. Mari, selamatkan mindset generasi muda Indonesia! Semangat berwirausaha!

0 Response to "Pendidikan Berbasis Wirausaha"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar, yang sopan ya :) | Semua komentar akan dimoderasi.

Hendak diskusi dengan penulis, silakan via email di pena_sastra@yahoo.com. Terima kasih